BAGAIMANA SHALAT DIWAJIBKAM PADA MALAM ISRA'
dari Anas bin Malik berkata, Abu Dzar menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Saat saya di Makkah atap rumahku terbuka, tiba-tiba tiba Malaikat Jibril Alaihis Salam. Lalu dia membelah dadaku kemudian mencucinya dengan menggunakan air zamzam. Dibawanya pula baskom terbuat dari emas berisi nasihat dan iman, kemudian dituangnya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali. Lalu dia memegang tanganku dan membawaku menuju langit dunia. Tatkala saya sudah hingga di langit dunia, Jibril Alaihis Salam berkata kepada Malaikat penjaga langit, 'Bukalah'. Malaikat penjaga langit berkata, 'Siapa Ini? ' Jibril menjawab, 'Ini Jibril'. Malaikat penjaga langit bertanya lagi, 'Apakah kau bersama orang lain? ' Jibril menjawab, "Ya, bersamaku Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.' Penjaga itu bertanya lagi, 'Apakah dia diutus sebagai Rasul? ' Jibril menjawab, 'Benar.' Ketika dibuka dan kami hingga di langit dunia, ketika itu ada seseorang yang sedang duduk, di sebelah kanan orang itu ada sekelompok insan begitu juga di sebelah kirinya. Apabila dia melihat kepada sekelompok orang yang di sebelah kanannya ia tertawa, dan bila melihat ke kirinya ia menangis. Lalu orang itu berkata, 'Selamat tiba Nabi yang shalih dan anak yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, "Dialah Adam Alaihis Salam, dan orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya yaitu ruh-ruh anak keturunannya. Mereka yang ada di sebelah kanannya yaitu para hebat nirwana sedangkan yang di sebelah kirinya yaitu hebat neraka. Jika dia memandang ke sebelah kanannya dia tertawa dan bila memandang ke sebelah kirinya dia menangis.' Kemudian saya dibawa menuju ke langit kedua, Jibril kemudian berkata kepada penjaganya ibarat terhadap penjaga langit pertama. Maka langit pun dibuka'." Anas berkata, "Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan bahwa pada tingkatan langit-langit itu dia bertemu dengan Adam, Idris, Musa, 'Isa dan Ibrahim semoga Allah memberi shalawat-Nya kepada mereka. Beliau tidak menceritakan kepadaku keberadaan mereka di langit tersebut, kecuali bahwa dia bertemu Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam." Anas melanjutkan, "Ketika Jibril berjalan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia melewati Idris. Maka Idris pun berkata, 'Selamat tiba Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Idris.' Lalu saya berjalan melewati Musa, ia pun berkata, 'Selamat tiba Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Musa.' Kemudian saya berjalan melewati 'Isa,dan Ibrahim semoga Allah memberi shalawat-Nya kepada mereka. Beliau tidak menceritakan kepadaku keberadaan mereka di langit tersebut, kecuali bahwa dia bertemu Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam." Anas melanjutkan, "Ketika Jibril berjalan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia melewati Idris. Maka Idris pun berkata, 'Selamat tiba Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Idris.' Lalu saya berjalan melewati Musa, ia pun berkata, 'Selamat tiba Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Musa.' Kemudian saya berjalan melewati 'Isa, dan ia pun berkata, 'Selamat tiba saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah 'Isa.' Kemudian saya melewati Ibrahim dan ia pun berkata, 'Selamat tiba Nabi yang shalih dan anak yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Ibrahim shallallahu 'alaihi wasallam.' Ibnu Syihab berkata, Ibnu Hazm mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu 'Abbas dan Abu Habbah Al Anshari keduanya berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kemudian saya dimi'rajkan hingga hingga ke suatu tempat yang saya sanggup mendengar bunyi pena yang menulis." Ibnu Hazm berkata, "Anas bin Malik menyebutkan, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kemudian Allah 'azza wajalla mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka saya pergi membawa perintah itu hingga saya berjumpa dengan Musa, kemudian ia bertanya, 'Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? ' Aku jawab: 'Shalat lima puluh kali.' Lalu dia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, lantaran umatmu tidak akan sanggup! ' Maka saya kembali dan Allah mengurangi setengahnya. Aku kemudian kembali menemui Musa dan saya katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya. Tapi ia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu lantaran umatmu tidak akan sanggup.' Aku kemudian kembali menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.' Kemudian saya kembali menemui Musa, ia kemudian berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, lantaran umatmu tetap tidak akan sanggup.' Maka saya kembali menemui Allah Ta'ala, Allah kemudian berfirman: 'Lima ini yaitu sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku! ' Maka saya kembali menemui Musa dan ia kembali berkata, 'Kembailah kepada Rabb-Mu! ' Aku katakan, 'Aku malu kepada Rabb-ku.' Jibril lantas membawaku hingga hingga di Sidratul Muntaha yang diselimuti dengan warna-warni yang saya tidak tahu benda apakah itu. Kemudian saya dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat dari mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi." BUKHARI NO. 336
dari 'Aisyah Ibu kaum Mu'minin, ia berkata, "Allah telah mewajibkan shalat, dan awal diwajibkannya yaitu dua rakaat dua rakaat, baik ketika mukim atau ketika dalam perjalanan. Kemudian ditetapkanlah ketentuan tersebut untuk shalat safar (dalam perjalanan), dan ditambahkan lagi untuk shalat di ketika mukim." BUKHARI NO. 337
WAJIBNYA MELAKSANAKAN SHALAT DENGAN MENGGUNAKAN PAKAIAN
dari Ummu 'Athiyah berkata, "Kami diperintahkan untuk mengajak keluar (wanita) haid dan perempuan yang sedang dipingit pada dua hari raya, sehingga mereka sanggup menyaksikan jama'ah kaum Muslimin dan mendo'akan mereka, kemudian menjauhkan wanita-wanita haid dari tempat shalat mereka." Seorang perempuan lalu, "Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak mempunyai jilbab?" Beliau menjawab: "Hendaklah temannya meminjamkan jilbab miliknya kepadanya." 'Abdullah bin Raja' berkata, telah menceritakan kepada kami 'Imran telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sirin telah menceritakan kepada kami Ummu 'Athiyah saya mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ibarat ini." BUKHARI NO. 338
MENGIKATKAN PAKAIAN DI TENGKUK KETIKA SHALAT
dari Muhammad bin Al Munkadir berkata, "Jabir mengerjakan shalat dengan mengenakan sarung yang ia ikatkan pada leher (tengkuk), sementara pakaiannya ia gantungnya di gantungan baju. Seseorang kemudian berkata kepadanya, "Kenapa kau shalat dengan menggunakan satu kain!" Jabir bin Samurah menjawab, "Aku lakukan itu biar sanggup dilihat oleh orang terbelakang ibarat kamu. Sebab mana ada pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, di antara kami yang mempunyai dua kain!" BUKHARI NO. 339
dari Muhammad bin Al Munkadir berkata, "Aku melihat Jabir bin 'Abdullah melaksanakan shalat dengan mengenakan satu pakaian. Lalu dia berkata, "Aku pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat dengan mengenakan (satu) kain." BUKHARI NO. 340
SHALAT DENGAN MENGGUNAKAN SEHELAI PAKAIAN
dari 'Umar bin Abu Salamah, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat dengan mengenakan satu kain yang diikatkan pada kedua sisinya." BUKHARI NO. 341
dari 'Umar bin Abu Salamah bahwa dia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat di rumah Ummu Salamah dengan mengenakan satu kain yang kedua sisinya digantungkan pada kedua pundaknya." BUKHARI NO. 342
dari Hisyam dari Bapaknya bahwa 'Umar bin Abu Salamah mengabarkan kepadanya, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat di rumah Ummu Salamah dengan mengenakan satu kain yang menutupi seluruh badannya yang diletakkan pada kedua pundaknya." BUKHARI NO. 343
Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Abu Uwais berkata, telah menceritakan kepadaku Malik bin Anas dari Abu An Nadlar mantan budak 'Umar bin 'Abdullah bahwa Abu Murrah mantan budak Ummu Hani' binti Abu Thalib mengabarkan kepadanya, bahwa ia mendengar Ummu Hani' binti Abu Thalib berkata, "Aku berkunjung kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada hari pembebasan Makkah, saya dapati dia mandi sementara Fatimah, puteri dia menutupinya dengan tabir." Ummu Hani' binti Abu Thalib berkata, "Aku lantas memberi salam kepada beliau, kemudian dia bertanya: "Siapakah ini?" Aku menjawab, "Aku Ummu Hani' binti Abu Thalib." Lalu dia bertanya, "Selamat tiba wahai Ummu Hani'." Setelah selesai mandi dia shalat delapan rakaat dengan berselimut pada satu baju. Setelah selesai shalat saya berkata, "Wahai Rasulullah, anak ibuku menyampaikan dia telah membunuh seseorang dan saya telah memberi ganti rugi kepada seseorang yakni Abu Hubairah." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Kami telah oke apa yang engkau berikan wahai Ummu Hani'!" Ummu Hani' berkata, "Saat itu yaitu waktu dluha." BUKHARI NO. 344
dari Abu Hurairah bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ihwal shalat menggunakan satu baju. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apakah setiap orang dari kalian mempunyai dua baju?" BUKHARI NO. 345
JIKA SHALAT MENGGUNAKAN SEHELAI PAKAIAN HENDAKLAH MENGIKATKANNYA KE PUNDAKNYA
dari Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian shalat dengan menggunakan satu kain, hingga tidak selembar pun kain yang menutupi kedua pundaknya." BUKHARI NO. 346
dari 'Ikrimah berkata, "Aku pernah mendengar, atau saya pernah bertanya kepadanya, ia berkata, "Aku mendengar Abu Hurairah berkata, "Aku bersumpah bahwa saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa shalat dengan menggunakan satu kain, maka hendaklah ia serempangkan pada kedua pundaknya." BUKHARI NO. 347
APABILA PAKAIAN YANG DIKENAKAN UNTUK SHALAT SEMPIT
dari Sa'id bin Al Harits berkata, "Kami bertanya kepada Jabir bin 'Abdullah ihwal shalat dengan mengenakan satu lembar kain. Maka ia menjawab, "Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam salah satu perjalanannya. Pada suau malamnya saya tiba untuk keperluanku. Saat itu saya dapati dia sedang shalat dengan mengenakan satu kain. Maka saya bergabung dengan dia dan shalat disampingnya. Setelah selesai dia bertanya: "Ada urusan apa (malam-malam begini) kau tiba wahai Jabir?" Maka saya sampaikan keperluanku kepada beliau. Setelah saya selesai, dia berkata: "Kenapa saya lihat kau menyelimutkan (kain) ibarat ini? ' Aku jawab, "Kainku sempit!" Beliau bersabda: "Jika kain itu lebar maka diikatkanlah dari pundak, namun bila sempit maka cukup dikenakan (sebatas untuk menutup aurat)." BUKHARI NO. 348
dari Sahal bin Sa'd berkata, "Kaum pria shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan mengikatkan kain pada leher-leher mereka ibarat bayi. Lalu dikatakan kepada kaum wanita: "Janganlah kalian mengangkat kepala kalian hingga para pria telah duduk." BUKHARI NO. 349
SHALAT DENGAN MENGGUNAKAN JUBAH BUATAN NEGERI SYAM
dari Mughirah bin Syu'bah berkata, "Aku pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, dia bersabda: "Wahai Mughirah, ambilkan segayung air." Aku kemudian mencarikan air untuk beliau, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pergi manjuah hingga tidak terlihat olehku untuk buang hajat. Saat itu dia mengenakan jubah lebar, dia berusaha mengeluarkan tangannya lewat lubang lengan namun terlalu sempit. Lalu dia mengeluarkan tangannya lewat bawah jubahnya, lantas saya sodorkan segayung air kemudian dia berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat dengan mengusap kedua sepatunya kemudian shalat." BUKHARI NO. 350
TIDAK DISUKAINYA BADAN TERBUKA (SELAIN PENUTUP AURAT) KETIKA SHALAT DAN JUGA DI LUAR SHALAT
telah menceritakan kepada kami Zakaria bin Ishaq telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Dinar berkata, saya mendengar Jabir bin 'Abdullah menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersama orang-orang Quraisy memindahkan watu Ka'bah sementara ketika itu dia mengenakan kain lebar." Pamannya, Al 'Abbas, kemudian berkata kepadanya, "Wahai anak saudaraku, seandainya kainmu engkau letakkan pada pundakmu tentu watu akan lebih ringan. Maka dia lepas dan dipakaikannya di pundaknya, tiba-tiba dia terjatuh dan pingsan. Setelah insiden itu tidak pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terlihat telanjang." BUKHARI NO. 351
SHALAT DENGAN MENGGUNAKAN KEMEJA, CELANA PANANG, CELANA DALAM, DAN SELENDANG
dari Abu Hurairah berkata, "Seorang pria tiba dan bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ihwal shalat dengan menggunakan satu lembar baju. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Apakah setiap kalian mempunyai dua helai baju?" Kemudian ada seseorang bertanya kepada 'Umar, kemudian ia menjawab, "Jika Allah memberi kelapangan (kemudahan), maka pergunakanlah." Bila seseorang mempunyai banyak pakaian, maka dia shalat dengan pakaiannya itu. Ada yang shalat dengan menggunakan kain dan rida (selendang besar), ada yang menggunakan kain dan gamis (baju panjang hingga kaki), ada yang menggunakan kain dan baju, ada yang menggunakan celana panjang dan rida', ada yang menggunakan celana panjang dan gamis, ada yang menggunakan celana panjang dan baju, ada yang menggunakan celana pendek dan rida', ada yang menggunakan celana pendek dan gamis." Abu Hurairah berkata, "Menurutku 'Umar mengatakan, "Dan ada yang menggunakan celana pendek dan rida'." BUKHARI NO. 352
dari Ibnu 'Umar berkata, "Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Apa yang harus dikenakan oleh seseorang ketika ihram?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Dia dilarang mengenakan baju, celana, mantel dan dilarang pula pakaian yang diberi minyak wangi atau wewangian dari daun tumbuhan. Dan siapa yang tidak mempunyai sandal, ia boleh mengenakan sepatu tapi hendaklah dipotong hingga berada dibawah mata kaki." Dan dari Nafi' dari Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ibarat ini juga." BUKHARI NO. 353
SESUATU YANG DIGUNAKAN UNTUK MENUTUP AURAT
dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang seseorang mengenakan pakaian shama` (berselimut sehingga seluruh kepingan badannya tertutup) dan melarang seseorang duduk ihtiba` dengan selembar kain hingga tidak ada yang menutupi kepingan kemaluannya." BUKHARI NO. 354
dari Abu Hurairah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang dua macam jual beli; jual beli Al Limas dan An Nibadz. Dan melarang dari dua cara berpakaian; berpakaian shama` dan seorang pria duduk ihtiba dengan mengenakan satu kain." BUKHARI NO. 355
telah mengabarkan kepadaku Humaid bin 'Abdurrahman bin 'Auf bahwa Abu Hurairah berkata, "Pada hari Nahr (Idul Adlha) Abu Bakar mengutusku kepada para pemberi pengumuman ketika pelaksanaan haji, di Mina kami umumkan bahwa orang Musyrik dilarang berhaji sehabis tahun ini dan dilarang thawaf dengan keadaan telanjang." Humaid bin 'Abdurrahman berkata, "Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membonceng Ali pada tunggangannya dan memerintahkannya untuk mengumumkan surat Al Bara'ah (At-Taubah)." Abu Hurairah berkata, "'Ali kemudian mengumumkan bersama kami pada penduduk Mina di hari Nahar, bahwa orang Musyrik dilarang berhaji sehabis tahun ini dan dilarang thawaf dengan keadaan telanjang." BUKHARI. NO. 356
SHALAT TANPA MEGGUNAKAN RIDA' (SELENDANG YANG LEBAR)
dari Muhammad bin Al Munkadir berkata, "Aku masuk menemui Jabir bin 'Abdullah yang ketika itu sedang shalat dengan menggunakan kain sarung yang diikatkannya pada tengkuk, sedangkan pakaiannnya diletakkan pada gantungan baju. Setelah selesai kami bertanya, "Wahai Abu 'Abdullah, bagaimana kau shalat sedangkan kain rida' (selendang) mu kau gantung pada gantungan baju? ' Maka Jabir menjawab, "Benar. Sesungguhnya saya senang bila berbuat ibarat itu biar sanggup dilihat oleh orang terbelakang ibarat kamu. Aku pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat dengan cara ibarat itu." BUKHARI NO. 357
MASALAH BERKENAAN PAHA (APAKAH TERMASUK AURAT?
dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berperang di Khaibar. Maka kami melaksanakan shalat shubuh di sana di hari yang masih sangat gelap, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Thalhah mengendarai tunggangannya, sementara saya memboncenmg Abu Thalhah. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian melewati jalan sempit di Khaibar dan ketika itu sungguh lututku menyentuh paha Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu dia menyingkap sarung dari pahanya hingga saya sanggup melihat paha Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang putih. Ketika memasuki desa dia bersabda: "Allahu Akbar, binasalah Khaibar dan penduduknya! Sungguh, bila kami mendatangi halaman suatu Kaum, maka (amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu) ' (Qs. Asf Shaffaat: 177). Beliau mengucapkan kalimat ayat ini tiga kali." Anas bin Malik melanjutkan, "(Saat itu) orang-orang keluar untuk bekerja, mereka lantas berkata, 'Muhammad datang! ' 'Abdul 'Aziz berkata, "Sebagian sahabat kami menyebutkan, "Pasukan (datang)! ' Maka kami pun menaklukan mereka, para tawanan lantas dikumpukan. Kemudian datanglah Dihyah Al Kalbi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah, berikan saya seorang perempuan dari tawanan itu!" Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, "Pergi dan bawalah seorang tawanan wanita." Dihyah lantas mengambil Shafiyah binti Huyai. Tiba-tiba tiba seseorang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Wahai Nabi Allah, Tuan telah memberikan Shafiyah binti Huyai kepada Dihyah! Padahal dia yaitu perempuan yang terhormat dari suku Quraizhoh dan suku Nadlit. Dia tidak layak kecuali untuk Tuan." Beliau kemudian bersabda: "Panggillah Dihyah dan perempuan itu." Maka Dihyah tiba dengan membawa Shafiah. Tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat Shafiah, dia berkata, "Ambillah perempuan tawanan yang lain selain dia." Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerdekakan perempuan tersebut dan menikahinya." Tsabit berkata kepada Anas bin Malik, "Apa yang menjadi maharnya?" Anas menjawab, "Maharnya yaitu kemerdekaan perempuan itu, dia memerdekakan dan menikahinya." Saat berada diperjalanan, Ummu Sulaim merias Shafiah kemudian menyerahkannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika malam tiba, sehingga jadilah dia pengantin. Beliau kemudian bersabda: "Siapa saja dari kalian yang memeliki sesuatu hendaklah ia bawa kemari." Beliau lantas menggelar hamparan terbuat dari kulit, kemudian berdatanganlah orang-orang dengan membawa apa yang mereka miliki. Ada yang membawa kurma dan ada yang membawa keju/lemak." Anas mengatakan, "Aku kira ia juga menyebutkan sawiq (makanan yang dibentuk dari biji gandung dan campuran tepung gandum). Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencampur makanan-makanan tersebut. Maka itulah walimahan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." BUKHARI NO. 358
DALAM BERAPA LEMBAR PAKAIAN SEHARUSNYA WANITA MELAKSANAKAN SHALAT?
dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Urwah bahwa 'Aisyah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat fajar dan ikut juga wanita-wanita Mu'minat yang wajahnya tertutup dengan kerudung, kemudian kembali ke rumah mereka masing-masing tanpa diketahui oleh seorangpun." BUKHARI NO. 359
JIKA SESEORANG SHALAT DENGAN PAKAIAN YANG ADA GAMBANYA LALU DIA MEMPERHATIKAN GAMBAR TERSEBUT
dari 'Aisyah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat di atas kain yang bergambar. Lalu dia melihat kepada gambar tersebut. Selesai shalat dia berkata: "Pergilah dengan membawa kain ini kepada Abu Jahm dan gantilah dengan pakaian polos dari Abu Jahm. Sungguh kain ini tadi telah mengganggu shalatku." Hisyam bin 'Urwah berkata dari Bapaknya dari 'Aisyah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku melihat pada gambarnya dan saya khawatir gambar itu menggangguku." BUKHARI NO. 360
JIKA SESEORANG SHALAT DENGAN PAKAIAN YANG ADA SALIBNYA ATAU GAMBAR, APAKAH DAPAT MERUSAK SHALATNYA?.APA YANG TERLARANG BERKAITAN MASALAH INI?
dari Anas bin Malik, bahwa kain tipis milik 'Aisyah digunakan untuk gorden, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: "Singkirkanlah kain ini dari kita, lantaran gambar-bambarnya selalu menggangguku dalam shalatku." BUKHARI NO. 361
SHALAT MENGENAKAN BAJU LUAR YANG TERBUAT DARI SUTERA LALU MENANGGALKANNYA
dari 'Uqbah bin 'Amir berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diberi hadiah berupa kain yang terbuat dari sutra, kemudian dia memakainya dan shalat. Setelah selesai, dia menyingkirkannya dengan keras seakan tidak suka, dia bersabda: "Ini tidak patut bagi orang yang bertakwa." BUKHARI NO. 362
SHALAT MENGENAKAN BAJU BERWARNA MERAH
dari 'Aun bin Abu Juhaifah dari Bapaknya berkata, "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada dalam kemah merah yang terbuat dari kulit yang disamak. Dan saya lihat Bilal mengambilkan air wudlu untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan saya lihat orang-orang saling berebut air tersebut. Orang yang mendapatkanya maka ia pribadi mengusapkannya, dan bagi yang tidak maka ia mengambilnya dari dari tangan temannya yang basah. Kemudian saya lihat Bilal mengambil tombak kecil dan menancapkannya di tanah, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar dengan mengenakan pakaian merah menghadap ke arah tombak kecil dan memimpin orang-orang shalat sebanyak dua raka'at. Dan saya lihat orang-orang dan binatang berlalu melewati depan tombak tersebut." BUKHARI NO. 363
SHALAT DI ATAP, DI ATAS MIMPAR DAN ATAU DI ATAS KAYU
telah menceritakan kepada kami Abu Hazim berkata, "Orang-orang bertanya kepada Sahal bin Sa'd ihwal terbuat dari apa mimbar Rasulullah? Maka dia berkata, "Tidak ada seorangpun yang masih hidup dari para sahabat yang lebih mengetahui kasus ini selain aku. Mimbar itu terbuat dari batang pohon hutan yang tak berduri, mimbar itu dibentuk oleh seorang budak perempuan untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika selesai dibentuk dan diletakkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri pada mimbar tersebut menghadap kiblat. Beliau bertakbir dan orang-orang pun ikut shalat dibelakangnya, dia kemudian membaca surat kemudian rukuk, dan orang-orang pun ikut rukuk di belakangnya. Kemudian dia mengangkat kepalanya, kemudian mundur ke belakang turun dan sujud di atas tanah. Kemudian dia kembali ke atas mimbar dan rukuk, kemudian mengangkat kepalnya kemudian turun kembali ke tanah pada posisi sebelumnya dan sujud di tanah. Itulah keberadaan mimbar." Abu 'Abdullah berkata, 'Ali Al Madini berkata, Ahmad bin Hambal rahimahullah bertanya kepadaku ihwal hadits ini. Ia katakan, "Yang saya maksudkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam posisinya lebih tinggi daripada orang-orang. Maka tidak mengapa seorang imam posisinya lebih tinggi daripada Makmum berdasarkan hadits ini." Sahl bin Sa'd berkata, "Aku katakan, "Sesungguhnya Sufyan bin 'Uyainah sering ditanya ihwal kasus ini, 'Apakah kau tidak pernah mendengarnya? ' Ahmad bin Hambal rahimahullah menjawab, "Tidak." BUKHARI NO. 364
dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah terjatuh dari kudanya hingga menimbulkan betisnya atau bahunya terluka. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjauhi isteri-isterinya selama sebulan. Beliau kemudian duduk di ruangan yang agak tinggi yang tangganya terbuat dari kayu. Para sahabatnya kemudian mengunjunginya, Beliau kemudian shalat mengimami mereka dengan duduk sedangkan para sahabatnya shalat dengan berdiri. Setelah salam, dia bersabda: "Sesungguhnya dijadikannya imam itu untuk diikuti. Jika imam bertakbir maka takbirlah kalian, bila rukuk maka rukuklah kalian, bila sujud maka sujudlah kalian, dan bila ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri." Kemudian Beliau shallallahu 'alaihi wasallam turun kembali sehabis dua puluh sembilan hari. Mereka pun berkata, "Wahai Rasulullah, bukankan engkau mengasingkan diri selama satu bulan? Beliau menjawab: "Satu bulan itu dua puluh sembilan hari." BUKHARI NO. 365
JIKA ORANG YANG SHALAT KETIKA SUJUD PAKAIANNYA MENYENTUH ISTRINYA
dari Maimunah ia berkata, "Pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat sementara saya berada di sampingnya, dan ketika itu saya sedang haid. Dan setiapkali dia sujud, pakaian dia mengenai aku. Dan dia shalat di atas tikar kecil." BUKHARI NO. 366
SHALAT DI ATAS TIKAR
dari Anas bin Malik bahwa neneknya, Mulaikah, mengundang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menghadiri hidangan yang ia masak untuk beliau. Beliau kemudian menyantap kuliner tersebut kemudian bersabda: "Berdirilah, saya akan pimpin kalian shalat." Anas berkata, "Maka saya berdiri di tikar milik kami yang sudah lusuh dan hitam akhir sering digunakan. Aku kemudian memercikinya dengan air, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri diatasnya. Aku dan seorang anak yatim kemudian menciptakan barisan di belakang beliau, sementara orang bau tanah (nenek) berdiri di belakang kami. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian shalat memimpim kami sebanyak dua rakaat kemudian pergi." BUKHARI NO. 367
SHALAT DI ATAS AL-KHUMRAH (ALAS KECIL KHUSUS UNTUK TEMPAT SUJUD)
dari 'Abdullah bin Syaddad dari Maimunah ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat di atas tikar kecil." BUKHARI NO. 368
SHALAT DI ATAS ALAS TIDUR (KASUR)
dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman dari 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata, "Aku pernah tidur di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sementara kedua kakiku di arah Qiblat (shalatnya). Jika sujud dia menyentuh kakiku, maka saya tarik kedua kakiku. Dan bila berdiri saya kembali meluruskan kakiku." 'Aisyah berkata, "Pada ketika itu di rumah-rumah belum ada lampu penerang." BUKHARI NO. 369
dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Urwah bahwa 'Aisyah mengabarkan kepadanya, bahwa ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang shalat Aisyah pernah tidur di arah kiblat beliau, ia tidur di atas kasur dengan posisi ibarat jenazah." BUKHARI NO. 370
dari 'Urwah, bahwa ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang shalat, 'Aisyah berbaring antara dia dengan arah kiblatnya, di atas tempat tidur yang digunakan untuk tidur keduanya." BUKHARI NO. 371
SUJUD DI ATAS KAIN DALAM CUACA SANGAT PANAS
dari Anas bin Malik berkata, "Kami shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian salah seorang dari kami meletakkan salah satu dari ujung bajunya di tempat sujudnya lantaran panasnya tempat sujud." BUKHARI NO. 372
SHALAT DENGAN MEMAKAI SANDAL
telah mengabarkan kepada kami Abu Maslamah Sa'id bin Yazid Al Azdi berkata, "Aku bertanya kepada Anas bin Malik, "Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat dengan menggunakan sandal?" Dia menjawab, "Ya." BUKHARI NO. 373
SHALAT DENGAN MEMAKAI KHUFF (SEPATU YANG MENUTUPI MAKA KAKI)
dari Hammam bin Al Harits berkata, "Aku pernah melihat Jarir bin 'Abdullah kencing, kemudian ia berwudlu dan mengusap dua sepatunya kemudian berdiri shalat. Maka hal itu ditanyakan kepadanya, ia lantas menjawab, "Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbuat ibarat ini." Ibrahim berkata, "Yang jadi mengherankan mereka yaitu lantaran Jarir yaitu termasuk di antara orang yang masuk Islam belakangan". BUKHARI NO. 374
dari Al Mughirah bin Syu'bah berkata, "Aku memberi air wudlu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia kemudian mengusap kedua sepatunya dan shalat." BUKHARI NO. 375
SHALAT BILA TIDAK MENYEMPURNAKAN SUJUD
dari Hudzaifah, bahwa ia melihat seorang pria tidak tepat dalam rukuk dan sujudnya. Setelah orang itu selesai shalat, Hudzaifah berkata kepadanya, "Kamu belum shalat!" Orang itu berkata, "Aku rasa sudah cukup." Hudzaifah berkata lagi, "Seandainya kau meninggal, maka kau meninggal dunia bukan di atas sunah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam." BUKHARI NO. 376
MENAMPAKKAN KETIAK DAN MERENGGANGKAN LENGAN SAAT SUJUD
dari 'Abdullah bin Malik bin Buhainah, bahwa bila Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat, dia membentangkan kedua lengannya hingga tampak putih ketiaknya." Al Laits berkata, telah menceritakan kepadaku Ja'far bin Rabi'ah ibarat itu." BUKHARI NO. 377
KEUTAMAAN MENGHADAP QIBLAT DENGAN MENGHADAPKAN JARI JEMARI KEDUA KAKI
dari Anas bin Malik ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa shalat ibarat shalat kita, menghadap ke arah kiblat kita dan memakan sembilan kita, maka dia yaitu seorang Muslim, ia mempunyai pinjaman dari Allah dan Rasul-Nya. Maka janganlah kalian mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya." BUKHARI NO. 378
dari Anas bin Malik berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku diperintah untuk memerangi insan hingga mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) '. Jika mereka mengucapkannya kemudian mendirikan shalat ibarat shalat kita, menghadap ke kiblat kita dan menyembelih ibarat cara kita menyembelih, maka darah dan harta mereka haram (suci) bagi kita kecuali dengan hak Islam dan perhitungannya ada pada Allah." Ibnu Abu Maryam berkata, telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami Humaid telah menceritakan kepada kami Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan 'Ali bin 'Abdullah berkata, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits berkata, telah menceritakan kepada kami Humaid berkata, "Maimun bin Siyah bertanya kepada Anas bin Malik, "Wahai Abu Hamzah, apa yang menjadikan haramnya darah dan harta seorang hamba?" Ali menjawab, "Siapa yang bersaksi Laa ilaaha illallah (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), menghadap ke kiblat kita, shalat sepeti shalat kita dan memakan sembelihan kita, maka dia yaitu Muslim, baginya hak dan kewajiban seorang Muslim." BUKHARI NO. 379
ARAH QIBLAT BAGI PENDUDUK MADINAH, SYAM DAN PENDUDUK TIMUR ( DARI KA'BAH)
dari Abu Ayyub Al Anshari, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika kalian mendatangi masuk ke dalam WC, maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Tetapi menghadaplah ke timurnya atau ke baratnya." Abu Ayyub berkata, "Ketika kami tiba ke Syam, kami dapati WC rumah-rumah di sana dibangun menghadap kiblat. Maka kami alihkan dan kami memohon ampun kepada Allah Ta'ala." Dan dari Az Zuhri dari 'Atha berkata, saya mendengar Abu Ayyub dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ibarat ini." BUKHARI NO. 380
FIRMAN ALLAH "DAN JADIKANLAH SEBAGIAN DARI MAQAM IBRAHIM SEBAGAI TEMPAT SHALAT"
telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Dinar berkata, "Kami pernah bertanya kepada Ibnu 'Umar ihwal seseorang yang thawaf di Ka'bah untuk 'Umrah tetapi tidak melaksanakan sa'i antara Shafa dan Marwah. Apakah dia boleh bekerjasama (jima') dengan isterinya?" Maka Ibnu 'Umar berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba Makkah, kemudian thawaf mengelilingi Ka'bah tujuh kali, shalat di sisi Maqam dua rakaat, kemudian sa'i antara antara Shafa dan Marwah. Dan sungguh bagi kalian ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah." Dan kami pernah bertanya kepada Jabir bin 'Abdullah ihwal kasus ini. Maka ia menjawab, "Jangan sekali-kali ia mendekati isterinya hingga ia melaksanakan sa'i antara bukit Shafa dan Marwah." BUKHARI NO. 381
telah menceritakan kepada kami Yahya dari Saif -Ibnu Sulaiman- berkata, saya mendengar Mujahid berkata, " Ibnu 'Umar pernah di datangi dan ditanya, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam Ka'bah. Maka Ibnu 'Umar berkata, "Aku kemudian mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun dia telah keluar, dan saya mendapati Bilal sedang berdiri di antara dua pintu. Aku kemudian bertanya kepada Bilal, "Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat di dalam Ka'bah? Bilal menjawab, "Ya, dua rakaat antara dua sisi dua tiang sebelah kiri dari arah kau masuk, kemudian dia keluar dan shalat menghadap Ka'bah dua rakaat." BUKHARI NO. 382
dari 'Atha' berkata, saya mendengar Ibnu 'Abbas berkata, "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam Ka'bah, dia berdo'a di seluruh sisinya dan tidak melaksanakan shalat hingga dia keluar darinya. Beliau kemudian shalat dua rakaat dengan memandang Ka'bah kemudian bersabda: "Inilah kiblat." BUKHARI NO. 383
MENGHADAP QIBLAT BAGAIMANAPUN KEADAANNYA
dari Al Bara' bin 'Azib? radliallahu 'anhuma berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat mengahdap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menginginkan kiblat tersebut dialihkan ke arah Ka'bah. Maka Allah menurunkan ayat: ("Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit) ' (Qs. Al Baqarah: 144). Maka kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menghadap ke Ka'bah. Lalu berkatalah orang-orang yang kurang akal, yaitu orang-orang Yahudi: '(Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus) ' (As. Al Baqarah: 144). Kemudian ada seseorang yang ikut shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, orang itu kemudian keluar sehabis menyelesikan shalatnya. Kemudian orang itu melewati Kaum Anshar yang sedang melaksanakan shalat 'Ashar dengan menghadap Baitul Maqdis. Lalu orang itu bersaksi bahwa dia telah shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan menghadap Ka'bah. Maka orang-orang itu pun berputar dan menghadap Ka'bah." BUKHARI NO. 384
dari Jabir bin 'Abdullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat diatas tunggangannya menghadap kemana arah tunggangannya menghadap. Jika Beliau hendak melaksanakan shalat yang fardlu, maka dia turun kemudian shalat menghadap kiblat." BUKHARI NO. 385
dari 'Alqamah berkata, Abdullah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat." Ibrahim melanjutkan, "Tapi saya tidak tahu apakah dia kelebihan rakaat atau kurang. Setelah salam, dia pun ditanya: "Wahai Rasulullah, telah terjadi sesuatu dalam shalat!. Beliau bertanya: "Apakah itu?" Maka mereka menjawab, "Tuan shalat begini dan begini." Beliau kemudian duduk pada kedua kakinya menghadap kiblat, kemudian dia sujud dua kali, kemudian salam. Ketika menghadap ke arah kami, dia bersabda: "Seungguhnya bila ada sesuatu yang gres dari shalat pasti saya beritahukan kepada kalian. Akan tetapi saya ini hanyalah insan ibarat kalian yang sanggup lupa sebagaimana kalian juga sanggup lupa, maka bila saya terlupa ingatkanlah. Dan bila seseorang dari kalian ragu dalam shalatnya maka dia harus meyakini mana yang benar, kemudian hendaklah ia sempurnakan, kemudian salam kemudian sujud dua kali." BUKHARI NO. 386
MASALAH QIBLAT DAN MEREKA YANG MEMANDANG TIDAK PERLU MENGULANG SHALAT BAGI SIAPA YANG TELAH SHALAT NAMUN KELIRU ARAH QIBLATNYA
dari Anas bin Malik berkata, 'Umar bin Al Khaththab, "Aku mempunyai pemikiran yang saya ingin bila itu dikabulkan oleh Rabbku dalam tiga persoalan. Maka saya sampaikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, 'Wahai Rasulullah, seandainya Maqam Ibrahim kita jadikan sebagai tempat shalat? Lalu turunlah ayat: '(Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat) ' (Qs. Al Baqarah: 125). Yang kedua ihwal hijab. Aku kemudian berkata, 'Wahai Rasulullah, seandainya Tuan perintahkan isteri-isteri Tuan untuk berhijab lantaran yang berkomunikasi dengan mereka ada orang yang shalih dan juga ada yang fajir (suka bermaksiat).' Maka turunlah ayat hijab. Dan yang ketiga, ketika isteri-isteri dia cemburu kepada dia (sehingga banyak yang membangkang), saya katakan kepada mereka, 'Semoga bila Beliau menceraikan kalian Rabbnya akan menggantinya dengan isteri-isteri yang lebih baik dari kalian.' Maka turunlah ayat ihwal kasus ini." Abu Abdullah berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam berkata, telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub berkata, telah menceritakan kepadaku Humaid ia berkata, Aku mendengar Anas ibarat hadits ini." BUKHARI NO. 387
dari 'Abdullah bin 'Umar berkata, "Ketika orang-orang shalat subuh di Quba', tiba-tiba tiba seorang pria dan berkata, "Sungguh, tadi malam telah turun ayat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dia diperintahkan untuk menghadap ke arah Ka'bah. Maka orang-orang yang sedang shalat berputar menghadap Ka'bah, padahal pada ketika itu wajah-wajah mereka sedang menghadap negeri Syam. Mereka kemudian berputar ke arah Ka'bah." BUKHARI NO. 388
dari 'Abdullah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat Zhuhur lima rakaat. Maka orang-orang berkata, "Apakah ada suplemen dalam shalat?" Beliau balik bertanya: "Apakah yang terjadi?" Mereka menjawab, "Tuan telah shalat sebanyak lima rakaat." Maka dia pun duduk di atas kedua kakinya kemudian sujud dua kali." BUKHARI NO. 389
MENGERIK DAHAK YANG ADA DI MASJID DENGAN TANGAN
dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat ada dahak di dinding kiblat, dia kemudian merasa jengkel hingga nampak tersirat pada wajahnya. Kemudian dia menggosoknya dengan tangannya seraya bersabda: "Jika seseorang dari kalian berdiri shalat bahwasanya dia sedang berhadapan dengan Rabbnya, atau bahwasanya Rabbnya berada antara dia dan kiblat, maka janganlah dia meludah ke arah kiblat, tetapi lakukanlah ke arah kirinya atau di bawah kaki (kirinya)." Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memegang tepi kainnya dan meludah di dalamnya, sehabis itu dia membalik posisi kainnya kemudian berkata, atau dia melaksanakan ibarat ini." BUKHARI NO. 390
dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat ludah di dinding kiblat, kemudian dia menggosoknya kemudian menghadap ke arah orang banyak seraya bersabda: "Jika seseorang dari kalian berdiri shalat janganlah dia meludah ke arah depannya, lantaran Allah berada di hadapannya ketika dia shalat." BUKHARI NO. 391
dari 'Aisyah Ummul Mukminin, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat ludah atau ingus pada dinding kiblat, dia kemudian menggosoknya." BUKHARI NO. 392
MENGERIK DAHAK YANG ADA DI MASJID DENGAN KERIKIL
dari Humaid bin 'Abdurrahman bahwa Abu Hurairah dan Abu Sa'id keduanya menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat ludah pada dinding masjid, dia kemudian mengambil watu kerikil kemudian menggosoknya. Setelah itu dia bersabda: "Jika salah seorang dari kalian meludah maka janganlah ia membuangnya ke arah depan atau sebelah kanannya, tetapi hendaklah ia lakukan ke arah kirinya atau di bawah kaki (kirinya)." BUKHARI NO. 393
TIDAK BOLEH MELUDAH KE ARAH KANAN KETIKA SHALAT
dari Humaid bin 'Abdurrahman bahwa Abu Hurairah dan Abu Sa'id keduanya mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melihat ludah pada dinding masjid, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengambil watu kerikil dan menggosoknya. Kemudian dia bersabda: "Jika salah seorang dari kalian meludah janganlah ia meludah ke arah kiblat atau ke sebelah kanannya, tapi hendaklah ia lakukan ke arah kiri atau di bawah kaki kirinya." BUKHARI NO. 394
telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata, telah mengabarkan kepadaku Qatadah berkata, saya mendengar Anas bin Malik berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian meludah ke arah depan atau samping kanannya, tapi hendaklah ke arah kiri atau di bawah kakinya." BUKHARI NO. 395
HENDAKLAH MEMBUANG DAHAK KE SEBELAH KIRI ATAU DI BAWAH KAKI KIRI KETIKA SHALAT
telah menceritakan kepada kami Qatadah berkata, saya mendengar Anas bin Malik berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika seorang Mukmin sedang shalat, bahwasanya ia sedang berhadapan dengan Rabbnya. Maka janganlah ia meludah ke arah depan atau sebelah kanannya, namun hendaklah ia melakukannya ke arah kiri atau di bawah kakinya." BUKHARI NO. 396
dari Abu Sa'id bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat ludah pada arah kiblat masjid, dia kemudian menggosoknya dengan watu kerikil. Kemudian dia melarang seorang pria meludah ke arah depan atau sebelah kanannya. Tetapi hendaklah ia melakukannya ke arah kiri atau ke bawah kaki kirinya." Dan dari Az Zuhri ia mendengar Humaid dari Abu Sa'id ibarat ini." BUKHARI NO. 397
KAFARAT (TEBUSAN) AKIBAT MEMBUANG DAHAK DI DALAM MASJID
telah menceritakan kepada kami Qatadah berkata, saya mendengar Anas bin Malik berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Meludah di dalam Masjid yaitu suatu dosa. Maka kafarahnya (tebusannya) yaitu menguburnya." BUKHARI NO. 398
MENUTUPI (MENGUBUR) DAHAK DI MASJID
dari Hammam ia mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia bersabda: "Jika salah seorang dari kalian berdiri shalat, maka janganlah meludah ke arah depannya lantaran ia sedang berhadapan dengan Allah selagi ia berada di tempat shalatnya, dan jangan ke sebelah kanannya lantaran di sana ada Malaikat. Tetapi hendaklah ia meludah ke arah kiri atau di bawah kakinya, kemudian dikuburnya." BUKHARI NO. 399
JIKA TERPAKSA MELUDAH HENDAKLAH MELUDAHNYA DENGAN MENGUNAKAN UJUNG PAKAIANNYA
dari Anas bin Malik, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat dahak di dinding kiblat kemudian menggosoknya dengan tangannya. Dan nampak kebencian dari beliau, atau kebenciannya terlihat lantaran hal itu. Beliau pun bersabda: "Jika salah seorang dari kalian berdiri shalat, bahwasanya ia sedang berhadapan dengan Rabbnya, atau bahwasanya Rabbnya berada antara dia dan arah kiblatnya, maka janganlah ia meludah ke arah kiblat. Tetapi hendaklah ia lakukan ke arah kiri atau di bawah kaki (kirinya)." Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memegang tepi kainnya dan meludah di dalamnya, sehabis itu dia membalik posisi kainnya kemudian berkata, atau dia melaksanakan ibarat ini." BUKHARI NO 400
NASEHAT IMAM KEPADA PARA MA'MUM TENTANG MENYEMPURNAKAN SHALAT DAN MENGINGATKAN QIBLAT
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apakah kalian lihat kiblatku disini? Demi Allah, tidaklah tersembunyi bagiku khusyuk dan rukuk kalian. Sungguh, saya sanggup melihatnya dari belakang punggungku." BUKHARI NO. 401
dari Anas bin Malik berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat bersama kami, kemudian dia naik mimbar dan bersabda: "Sesungguhnya ketika shalat dan rukuk, saya sanggup melihat kalian dari belakangku sebagaimana kini saya melihat kalian." BUKHARI NO. 402
BOLEHKAN MENAMAKAN MASJID DENGAN MASJID SUKU ANU?
dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mempertandingkan antara kudan yang dipersiapkan untuk pacuan yang jaraknya dimulai dari Al Hafya' hingga Tsaniyatul Wada', dan kuda yang tidak disiapkanuntuk pacuan yang dimulai dari Al Hafya' hingga Masjid Bani Zuraiq." 'Abdullah bin 'Umar yaitu termasuk orang yang mengikuti pacuan tersebut." BUKHARI NO. 403
ORANG YANG MENGUNDANG MAKAN DI MASJID DAN ORANG YANG MEMENUHI UNDANGAN TERSEBUT
dari Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah bahwa dia mendengar Anas berkata, "Aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika dia sedang berada di Masjid bersama orang banyak. Maka saya menghadap kepada beliau, kemudian dia bertanya kepadaku: "Apakah kau diutus oleh Abu Thalhah?" Aku menjawab, "Ya." Beliau bertanya lagi: "Untuk undangan makan?" Aku menjawab: "Benar." Kemudian dia bersabda kepada orang-orang yang bersama beliau: "Mari berangkat!" Maka dia pun berangkat dan saya juga berangkat bersama mereka". BUKHARI NO. 404
MEMUTUSKAN PERKARA-PERKARA DAN LI'AN (SUMPAH DAN SALING MELAKNAT) ANTARA SUAMI DAN ISTRI DI MASJID
dari Sahal bin Sa'd, bahwa ada seorang pria tiba dan berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu bila seorang suami mendapati pria lain bersama isterinya? Lalu keduanya saling melaknat di dalam masjid, sementara saya menyaksiakannya." BUKHARI NO. 405
JIKA SESEORANG MEMASUKI SUATU RUMAH APAKAH IA BOLEH SHALAT DIMANA SAJA DIA MAU ATAU DIMANA DIPERINTAHKAN TANPA MENYELIDIKI TERLEBIH DAHULU?
dari 'Itban bin Malik, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatanginya di rumahnya seraya bersabda: "Mana tempat di rumahmu yang kau sukai untuk saya pimpin shalat?" Maka saya memperlihatkan suatu tempat, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam takbir dan kami menciptakan shaf di belakangnya, kemudian beliaupun shalat dua rakaat." BUKHARI NO. 406
MASJID-MASJID YANG ADA DI RUMAH-RUMAH
dari Ibnu Syihab berkata, telah menceritakan kapadaku Mahmud bin Ar Rabi' Al Anshari bahwa 'Itban bin Malik seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang pernah ikut perang Badar dari kalangan Anshar, dia pernah menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bersabda: "Wahai Rasulullah, pandanganku sudah jelek sedang saya sering memimpin shalat kaumku. Apabila turun hujun, maka air menggenangi lembah yang ada antara saya dan mereka sehingga saya tidak sanggup pergi ke masjid untuk memimpin shalat. Aku menginginkan Tuan sanggup mengunjungi saya kemudian shalat di rumahku yang akan saya jadikan sebagai tempat shalat." Mahmud berkata, "Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Aku akan lakukan insyaallah." 'Itban berkata, "Maka berangkatlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakar ketika siang hari, dia kemudian meminta izin kemudian saya mengizinkannya, dan dia tidak duduk hingga dia masuk ke dalam rumah. Kemudian dia bersabda: "Mana tempat di rumahmu yang kau sukai untuk saya pimpin shalat." Maka saya tunjukkan tempat di sisi rumah. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian berdiri dan takbir. Sementara kami berdiri menciptakan shaf di belakang beliau, dia shalat dua rakaat kemudian salam." 'Itban melanjutkan, "Lalu kami suguhkan kuliner dari daging yang kami masak untuk beliau. Maka berkumpullah warga desa di rumahku dalam jumlah yang banyak. Salah seorang dari mereka kemudian berkata, "Mana Malik bin Ad-Dukhaisyin atau Ibnu Ad Dukhsyun?" Ada seorang yang menjawab, "Dia munafik, dia tidak menyayangi Allah dan Rasul-Nya." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Janganlah kau ucapkan ibarat itu. Bukankan kau tahu dia telah mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan mengharap ridla Allah?" Orang itu menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." 'Itban berkata, "Kami lihat pandangan dan nasehat dia itu untuk kaum Munafikin. Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan mengharap ridla Allah?" Ibnu Syihab berkata, "Kemudian saya tanyakan kepada Al Hushain bin Muhammad Al Anshari salah seorang dari Bani Salim yang termasuk orang terpandang ihwal hadits Mahmud bin Ar Rabi' ini. Maka dia membenarkannya." BUKHARI NO. 407
MENDAHULUI KAKI KANAN KETIKA MEMASUKI MASJID DAN LAINNYA
dari 'Aisyah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam suka mendahulukan yang kanan dalam setiap perbuatannya. Seperti dalam bersuci, menaiki kendaraan dan menggunakan sandal." BUKHARI NO. 408
BOLEHKAN MENMBONGKAR KUBURAN ORANG MUSYRIK JAHILIYYAH LALU MEMBANGUN MASJID DI ATASNYA?
dari 'Aisyah Ummul Mukminin, bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa mereka melihat gereja di Habasyah yang didalamnya terdapat gambar. Maka dia pun bersabda: "Sesungguhnya bila orang shalih dari mereka meninggal, maka mereka mendirikan masjid di atas kuburannya dan menciptakan patungnya di sana. Maka mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiyamat." BUKHARI NO 409
dari Anas bin Malik berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba di Madinah kemudian singgah di perkampungan bani 'Amru bin 'Auf, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tinggal di sana selama empat belas malam. Kemudian dia mengutus seseorang menemui bani Najjar, maka mereka pun tiba dengan pedang di tubuh mereka. Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di atas tunggangannya sedangkan Abu Bakar membonceng di belakangnya dan para pembesar bani Najjar berada di sekelilingnya hingga hingga di sumur milik Abu Ayyub. Beliau suka segera shalat ketika waktu shalat sudah masuk, maka dia pun shalat di sangkar kambing. Kemudian dia memerintahkan untuk membangun masjid, dia mengutus seseorang menemui pembesar bani Najjar. utusan itu menyampaikan: "Wahai bani Najjar, sebutkan berapa harga kebun kalian ini?" Mereka menjawab, "Tidak, demi Allah. Kami tidak akan menjualnya kecuali kepada Allah!" Anas berkata, "Aku beritahu kepada kalian bahwa pada kebun itu banyak terdapat kuburan orang-orang musyrik, juga ada sisa-sisa reruntuhan rumah dan pohon-pohon kurma. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk membongkar kuburan-kuburan tersebut, reruntuhan rumah diratakan dan pohon-pohon kurma ditumbangkan kemudian dipindahkan di depan arah kiblat masjid. Maka kemudian menciptakan pintu masjid dari pohon dan mengangkut watu bata sambil menyanyikan nasyid. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ikut bekerja pula bersama mereka sambil mengucapkan: "Ya Allah. Tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin." BUKHARI NO. 410
SHALAT DI KANDANG KAMBING
dari Anas bin Malik berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat di sangkar kambing." Setelah itu saya mendengar Anas mengatakan, "Beliau shalat di sangkar kambing sebelum masjid di bangun." BUKHARI NO. 411
SHALAT DI KANDANG UNTA
dari Nafi' berkata, "Aku melihat Ibnu 'Umar shalat menghadap untanya, dan ia mengatakan, "Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukannya." BUKHARI NO. 412
ORANG YANG MELAKUKAN SHALAT DI HADAPAN TUNGKU ATAU API ATAU SESUATU YANG BIASA DISEMBAH ORANG SEDANGKAN DIA MELAKSANAKAN SHALAT KARENA ALLAH TA'ALA
dari 'Abdullah bin 'Abbas berkata, "Ketika terjadi gerhana matahari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat (gerhana), kemudin dia bersabda: "Neraka telah diperlihatkan kepadaku, dan belum pernah sekalipun saya melihat suatu pemandangan yang lebih mengerikan dari pada hari ini." BUKHARI NO. 413
DIBENCINYA SHALAT DI KUBURAN
dari Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jadikanlah (sebagian dari) shalat kalian ada di rumah kalian, dan jangan kalian jadikan ia sebagai kuburan." BUKHARI NO. 414
SHALAT DI TEMPAT RERUNTUHAN ATAU TEMPAT YANG PERNAH TERKENA SIKSA
dari 'Abdullah bin 'Umar bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian memasuki tempat yang penghuninya disiksa kecuali kalian menangis, bila tidak sanggup menangis maka janganlah kalian memasukinya biar kalian tidak menerima mushibah sebagaimana mereka mendapatkannya." BUKHARI NO. 415
SHALAT DI DALAM GEREJA (ATAU TEMPAT IBADAH ORANG YAHUDI DAN NASHRANI)
dari 'Aisyah, bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebuah gereja yang dia lihat di suatu tempat di negeri Habasyah (Eithofia) yang disebut Mariyah. Kemudian dia ceritakan apa yang dilihatnya bahwa didalamnya ada gambar (patung). Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Mereka yaitu suatu kaum yang bila ada hamba shalih atau pria shalih dari mereka meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburannya dan mengembangkan patung untuknya. Maka mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah." BUKHARI NO. 416
dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah bahwa 'Aisyah dan 'Abdullah bin 'Abbas keduanya berkata, "Ketika sakit Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam semakin parah, dia memegang bajunya dan ditutupkan pada mukanya. Bila telah terasa sesak, dia lepaskan dari mukanya. Ketika keadaannya ibarat itu dia bersabda: 'Semoga laknat Allah tertipa kepada orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.' Beliau memberi peringatan (kaum Muslimin) atas apa yang mereka lakukan." BUKHARI NO. 417
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah melaknat Yahudi dan Nashara lantaran mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid." BUKHARI NO. 418
SABDA NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALAM: "DAN BUMI TELAH DIJADIKAN UNTUKKU SEBAGAI TEMPAT SUJUD DAN TEMPAT BERSUCI"
telah menceritakan kepada kami Jabir bin 'Abdullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku diberikan lima kasus yang tidak diberikan kepada seorangpun dari Nabi-Nabi sebelumku; saya ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka sepanjang sebulan perjalanan, bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan suci; maka dimana saja seorang pria dari ummatku mendapati waktu shalat hendaklah ia shalat. Dihalalkan harta rampasan untukku, para Nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan saya diutus untuk seluruh manusia, dan saya diberikah (hak) syafa'at". BUKHARI NO. 419
TIDURNYA SEORANG WANITA DI DALAM MASJID
dari 'Aisyah, bahwa ada seorang budak perempuan hitam milik suatu kaum orang 'Arab telah mereka merdekakan." 'Aisyah mengatakan, "Pada suatu hari sahaya ini keluar bersama seorang bayi perempuan dengan membawa kain tikar tenunan berwarna merah terbuat dari kulit yang dihiasi dengan permata. Berkata, 'Aisyah radliallahu 'anhu: Maka sahaya itu meletakkan tikar tersebut atau duduk diatasnya. Lalu tiba-tiba ada burung terluka yang jatuh. Sahaya itu menganggapnya sebagai daging maka diambilnya. Lalu orang-orang itu mencari burung tersebut tapi tidak menemukannya. Berkata, 'Aisyah radliallahu 'anhu: "Lalu orang-orang itu menanyakannya kepadaku. Be 'Aisyah radliallahu 'anhu: "lalu orang-orng iru menggeledah hingga pada kepingan depan sahaya tersebut. 'Aisyah radliallahu 'anhu berkata,: "Demi Allah, saya ada bersama mereka ketika butung itu jatuh kemudian dia mengambilnya. Maka terjadilah apa yang terjadi diantara mereka. 'Aisyah radliallahu 'anhu berkata,: "Aku katakan: Inilah yang kalian duga saya berada di balik ini semua padahal orang ini lah yang berbuat dan saya berlepas diri darinya". 'Aisyah radliallahu 'anhu berkata,: "Lalu sahaya ini menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. dan masuk Islam. Berkata, 'Aisyah radliallahu 'anhu: Sahaya ini mempunyai rumah kecil di akrab masjid. 'Aisyah radliallahu 'anhu berkata,: "Dan setiap dia menemui saya dia menceritakan disampingku. 'Aisyah radliallahu 'anhu berkata,: " Tidaklah dia duduk disisiku melainkan selalu bersya'ir: Berkata, 'Aisyah radliallahu 'anhu: saya katakana kepadanya: "Apa alasanmmu setiap kali bermajelis denganku kau bersya'ir ibarat itu?" 'Aisyah radliallahu 'anhu berkata,: Maka dia ceritakan ibarat kejadian dalam hadits ini". BUKHARI NO. 420
TIDURNYA SEORANG LAKI-LAKI DI DALAM MASJID
dari 'Ubaidullah berkata, telah menceritakan kepadaku Nafi' berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Abdullah bin 'Umar, bahwa ia pernah tidur di masjid Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika dia masih cowok lajang dan belum punya keluarga." BUKHARI NO. 421
dari Sahl bin Sa'd berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiba ke rumah Fatimah namun 'Ali tidak ada di rumah. Beliau kemudian bertanya: "Kemana putera pamanmu?" Fatimah menjawab, "Antara saya dan dia terjadi sesuatu hingga dia murka kepadaku, kemudian dia pergi dan tidak tidur siang di rumah." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada seseorang: "Carilah, dimana dia!" Kemudian orang itu kembali dan berkata, "Wahai Rasulullah, dia ada di masjid sedang tidur." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatanginya, ketika itu Ali sedang berbaring sementara kain selendangnya jatuh di sisinya hingga ia tertutupi debu. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membersihkannya seraya berkata: "Wahai Abu Thurab, bangunlah. Wahai Abu Thurab, bangunlah." BUKHARI NO. 422
dari Abu Hurairah berkata, "Sungguh, saya pernah melihat sekitar tujuh puluh orang dari Ashhabush Shuffah. Tidak ada seorangpun dari mereka yang mempunyai rida' (selendang), atau kain, atau baju panjang kecuali mereka ikatkan dari leher mereka. Di antara mereka ada yang kainnya hingga ke tengah betisnya dan ada yang hingga ke mata kaki. Kemudian dia lipatkan dengan tangannya lantaran khawatir auratnya terlihat." BUKHARI NO. 423
SHALAT SEKEMBALINYA DARI BEPERGIAN
dari Jabir bin 'Abdullah berkata, "Aku tiba menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika dia berada di masjid -Mis'ar berkata, "Menurutku Jabir berkata, 'Saat waktu dluha.'- Jabir bin 'Abdullah berkata, "Beliau bersabda: "Shalatlah dua rakaat." Ketika itu dia mempunyai hutang kepadaku. Maka dia membayarnya dan memberi suplemen kepadaku." BUKHARI NO. 424
JIKA SEORANG DARI KALIAN MEMASUKI MASJID HENDAKLAH SHALAT DUA RAKAAT SEBELUM DIA DUDUK
dari Abu Qatadah As Salami, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah ia shalat dua rakaat sebelum ia duduk." BUKHARI NO. 425
BERHADATS DI DALAM MASJID
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Para Malaikat selalu memberi shalawat (mendo'akan) kepada salah seorang dari kalian selama ia masih di tempat ia shalat dan belum berhadats. Malaikat berkata, 'Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia'." BUKHARI NO. 426
MEMBAGUN MASJID
dari Shalih bin Kaisan berkata, telah menceritakan kepada kami Nafi' bahwa 'Abdullah bin 'Umar mengabarkan kepadanya, bahwa pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Masjid dibangun dengan menggunakan tanah liat yang dikeraskan (bata). Atapnya dari dedaunan sedangkan tiangnya dari batang pohon kurma. Pada masanya Abu Bakar tidak memberi suplemen renovasi apapun, kemudian pada masanya Umar bin Al Khaththab ia memberi suplemen renovasi, Umar merenovasi dengan watu bata dan dahan barang kurma sesuai dengan bentuk yang ada di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Tiang utama ia ganti dengan kayu. Kemudian pada masa Utsman ia banyak melaksanakan perubahan dan renovasi, dinding masjid ia berdiri dari watu yang diukir dan watu kapur. Kemudian tiang dari watu berukir dan atapnya dari batang kayu pilihan." BUKHARI NO. 427
TOLONG MENOLONG DALAM MEMBANGUN MASJID
dari 'Ikrimah, Ibnu 'Abbas kepadaku dan kepada Ali, anaknya, "Pergilah kalian bedua menemui Abu Sa'id dan dengarlah hadits darinya!" Maka kami pun berangkat. Dan kami dapati dia sedang membetulkan dinding miliknya, ia mengambil kain selendangnya dan duduk ihtiba`. Kemudian ia mulai berbicara hingga menyebutkan ihwal pembangunan masjid. Ia mengkisahkan, "Masing-masing kami membawa bata satu persatu, sedangkan 'Ammar membawa dua bata dua bata sekaligus. Saat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya, dia berkata sambil meniup debu yang ada padanya: "Kasihan 'Ammar, dia akan dibunuh oleh golongan durjana. Dia mengajak mereka ke nirwana sedangkan mereka mengajaknya ke neraka." Ibnu 'Abbas berkata, "'Ammar lantas berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari fitnah tersebut." BUKHARI NO. 428
MEMINTA BANTUAN TUKANG KAYU DAN TUKANG BANGUNAN DALAM MEMBUAT MIMBAR DAN MENDIRIKAN MASJID
dari Sahl berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seorang perempuan dan berkata, "Perintahkan budakmu yang tukang kayu itu menciptakan tangga mimbar untukku, hingga saya sanggup duduk di atasnya." BUKHARI NO. 429
dari Jabir bin 'Abdullah, bahwa ada seorang perempuan berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah saya buatkan sesuatu untuk Tuan, sehingga Tuan sanggup duduk di atasnya? Karena saya punya seorang budak yang hebat dalam kasus pertukangan kayu." Beliau menjawab: "Silakan, kalau kau mau." Maka perempuan itu menciptakan sebuah mimbar." BUKHARI NO. 430
BALASAN PAHALA ORANG YANG MEMBANGUN MASJID
telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku 'Amru bahwa Bukair menceritakan kepadanya, bahwa 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah menceritakan kepadanya, bahwa dia mendengar 'Ubaidullah Al Khaulani mendengar 'Utsman bin 'Affan berkata di tengah pembicaraan orang-orang sekitar kasus pembangunan masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia katakan, "Sungguh, kalian telah banyak berbicara, padahal saya mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang membangun masjid -Bukair berkata, "Menurutku dia mengatakan- lantaran mengharapkah ridla Allah, maka Allah akan membangun untuknya yang ibarat itu di surga." BUKHARI NO. 431
MEMEGANGI MATA PANAH KETIKA MEMASUKI MASJID
telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata, saya katakan kepada 'Amru, "Apakah kau mendengar Jabir bin 'Abdullah berkata, "Ada seorang pria berjalan di dalam masjid dengan membawa panah. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Jagalah ujung panahmu!" BUKHARI NO. 432
BERJALAN MELEWATI MASJID
telah menceritakan kepada kami Abu Burdah bin 'Abdullah berkata, saya mendengar Abu Burdah dari Bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa lewat dengan membawa panah di masjid atau pasar kita, maka hendaklah dipegang ujung panahnya dengan tangannya biar tidak melukai seorang muslim." BUKHARI NO. 433
MEMBACA SYA'IR DI DALAM MASJID
telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin 'Abdurrahman bin 'Auf bahwa dia mendengar Hassan bin Tsabit Al Anshari meminta kesaksian Abu Hurairah, "Semoga Allah memberimu kebaikan, apakah anda mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai Hassan, penuhilah panggilan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (permintaan untuk melawan kaum kafir). Ya Allah, kuatkanlah dia dengan Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) '. Abu Hurairah menjawab, "Ya." BUKHARI NO. 434
BERMAIN TOMBAK DI DALAM MASJID
dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Urwah bin Az Zubair bahwa 'Aisyah berkata, "Pada suatu hari saya penah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri di pintu rumahku sedangkan budak-budak Habasyah sedang bermain di dalam Masjid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menutupiku dengan kain selendangnya ketika saya menyaksikan permainan mereka." Ibraim bin Al Mundzir menambahkan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari 'Urwah dari 'Aisyah berkata, "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyaksikan budak-budak Habasyah mempertunjukkan permainan tombak mereka." BUKHARI NO. 435
MEMBICARAKAN PERDAGANGAN DAN JUAL BELI DI ATAS MIMBAR DI DALAM MASJID
dari 'Aisyah berkata, "Barirah tiba kepadanya dan meminta tolong dalam kasus pembebasannya dirinya (sebagai budak)." 'Aisyah kemudian berkata, "Kalau kau mau, saya berikan tebusan kepada tuanmu dan perwalianmu milikku." Tuannya berkata, "Kalau mau, engkau sanggup berikan sisanya (harga budak tersebut)." Sekali waktu Sufyan menyebutkan, "Kalau kau mau, bebaskanlah dia dan perwalian milik kami." Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang, Aisyah menceritakan hal itu kepada beliau. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Belil dan merdekakanlah. Sesungguhnya perwalian itu bagi orang yang memerdekakannya." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri akrab mimbar, sekali waktu Sufyan menyebutkanm "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam naik mimbar kemudian bersabda: "Kenapa suatu kaum menciptakan persyaratan dengan syarat-syarat yang tidak ada pada Kitabullah. Barangsiapa menciptakan syarat yang tidak ada pada Kitabullah, maka tidak berlaku sekalipun dia menciptakan persyaratan seratus kali." 'Ali berkata, Yahya berkata dan 'Abdul Wahhab dari Yahya dari 'Amrah ibarat hadits ini." Dan Ja'far bin 'Aun berkata, dari Yahya ia berkata, saya mendengar 'Amrah berkata, saya mendengar 'Aisyah. Dan Malik meriwayatkan dari Yahya dari 'Amrah bahwa Bararah….namun ia tidak menyebut bahwa (Rasulullah) naik mimbar." BUKHARI NO. 436
MENAGIH HUTANG DAN MEMINTA KEPASTIAN PELUNASAN DI DALAM MASJID
dari Ka'b, bahwa ia pernah menagih hutang kepada Ibnu Abu Hadrad di dalam Masjid hingga bunyi keduanya meninggi yang jadinya didengar oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang berada di rumah. Beliau kemudian keluar menemui keduanya sambil menyingkap kain gorden kamarnya, dia bersabda: "Wahai Ka'b!" Ka'b bin Malik menjawab: "Wahai Rasulullah, saya penuhi panggilanmu." Beliau bersabda: "Bebaskanlah hutangmu ini." Beliau kemudian memberi arahan untuk membebaskan setengahnya. Ka'b bin Malik menjawab, "Sudah saya lakukan wahai Rasulullah." Beliau kemudian bersabda (kepada Ibnu Abu Hadrad): "Sekarang bayarlah." BUKHARI NO. 437
PETUGAS KEBERSIHAN MASJID DAN MEMBUANG KOTORAN DARI MASJID
dari Abu Hurairah, "Ada seorang pria kulit gelap atau perempuan kulit gelap yang menjadi tukang sapu Masjid meninggal dunia. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bertanya ihwal keberadaan orang tersebut. Orang-orang pun menjawab, "Dia telah meninggal!" Beliaupun bersabda: "Kenapa kalian tidak memberi kabar kepadaku? Tunjukkanlah kuburannya padaku!" dia kemudian mendatangi kuburan orang itu kemudian menshalatinya." BUKHARI NO. 438
HARAMNNYA MEMPERDAGANGKAN KHAMER DI DALAM MASJID (SEBELUM TURUN AYAT PENGHARAMAN MEMINUMNYA)
dari 'Aisyah berkata, "Ketika turun ayat-ayat dalam Surah Al Baqarah ihwal kasus riba, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar ke masjid kemudian membacakan ayat-ayat tersebut kepada manusia. Kemudian dia mengharamkan perdagangan khamer." BUKHARI NO. 439
PELAYAN MASJID
dari Abu Hurairah, "Seorang pria atau perempuan mengurusi (kebersihan) Masjid, dan saya tidak melihat kecuali bahwa ia yaitu seorang wanita. Lalu dia menyebutkan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa dia shalat di atas kuburnya." BUKHARI NO. 440
PARA TAWANAN DAN ORANG YANG BERMAKSIAT DIIKAT DI MASJID
dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia bersabda: "Sesungguhnya 'Ifrit dari bangsa Jin gres saja menggaguku untuk memutus shalatku tapi Allah memenangkan saya atasnya, dan saya berkehendak untuk mengikatnya di salah satu tiang masjid hingga waktu shubuh sehingga tiap orang dari sanggup kalian sanggup melihatnya. Namun saya teringat ucapan saudaraku Sulaiman Alaihis Salam ketika berdo'a: '(Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh seorangpun sehabis aku) ' (QS. Shaad: 35). Rauh berkata, "Kemudian dia mengusirnya dalan keadaan hina." BUKHARI NO. 441
MANDI BAGI ORANG YANG BARU MASUK ISLAM DAN MENGIKAT TAWANAN DI MASJID
telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Sa'id bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengirim pasukan berkuda mendatangi Najed, pasukan itu kemudian kembali dengan membawa seorang pria dari bani Hanifah yang berjulukan Tsumamah bin Utsal. Mereka kemudian mengikat pria itu di salah satu tiang masjid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian keluar menemuinya dan bersabda: "Lepaskanlah Tsumamah." Tsumamah kemudian masuk ke kebun kurma akrab Masjid untuk mandi. Setelah itu ia kembali masuk ke Masjid dan mengucapkan, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selian Allah dan Muhammad yaitu utusan Allah." BUKHARI NO. 442
KEMAH DI DALAM MASJID BAGI ORANG YANG SAKIT DAN SELAIN MEREKA
dari 'Aisyah berkata, "Pada hari peperangan Khandaq, Sa'd terluka pada kepingan lengannya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian mendirikan tenda untuk menjenguk Sa'd dari dekat, sementara di Masjid banyak juga tenda milik bani ghifar. Kemudian banyak darah yang mengalir ke arah mereka (orang-orang bani Ghifar), maka mereka pun berkata, 'Wahai penghuni tenda! Cairan apa yang mengenai kami ini? Ia muncul dari arah kalian? ' Dan ternyata cairan itu ada darah Sa'd yang keluar sehingga ia pun meninggal." BUKHARI NO. 443
MEMASUKKAN UNTA KE DALAM MASJID KARENA SUATU ALASAN
dari Ummu Salamah berkata, "Aku mengadu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa saya mengalami rasa sakit. Beliau kemudian bersabda: "Thawaflah di belakang orang dengan berkendaraan." Maka saya pun melaksanakan thawaf, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat di sisi Ka'bah dengan membaca: "WATHTHUUR WA KITAABIM MASTHUUR (Demi bukit, dan Kitab yang ditulis) ' (Qs. Ath Thuur: 1-2). BUKHARI NO. 444
telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik, bahwa dua orang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari kediaman dia pada malam yang gelap gulita. Dan seakan pada keduanya ada lampu kecil yang menerangi keduanya, ketika keduanya berpisah, masing-masing dari shahabat tersebut diiringi cahaya hingga tiba menemui keluarganya." BUKHARI NO. 445
PINTU DAN JALAN UNTUK BERLALU LALANG DI MASJID
dari Abu Sa'id Al Khudru berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberikan khuthbahnya, "Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada seorang hamba untuk menentukan antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Kemudian hamba tersebut menentukan apa yang ada di sisi Allah." Maka tiba-tiba Abu Bakar Ash Shidiq menangis. Aku berpikir dalam hati, apa yang menciptakan orang bau tanah ini menangis, hanya lantaran Allah memberikan kepada seorang hamba untuk menentukan antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya kemudian hamba tersebut menentukan apa yang ada di sisi Allah?" Dan ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu yang dimaksud hamba tersebut. Dan Abu Bakr yaitu orang yang paling memahami arahan itu. Kemudian dia berkata: "Wahai Abu Bakar, jangalah kau menangis. Sesungguhnya insan yang paling terpercaya di hadapanku dalam persahabatannya dan hartanya yaitu Abu Bakar. Seandainya saya boleh mengambil kekasih dari ummatku, tentulah Abu Bakar orangnya. Akan tetapi yang ada yaitu persaudaraan Islam dan berkasih sayang dalam Islam. Sungguh, tidak ada satupun pintu di dalam Masjid yang tersisa melainkan akan tertutup kecuali pintunya Abu Bakar." BUKHARI NO. 446
dari Ibnu 'Abbas berkata, "Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar dalam keadaan sakit yang membawa pada ajalnya. Saat itu kepalanya dibalut dengan kain, dia kemudian naik mimbar dan menucapkan puja dan puji kepada Allah. Kemudian dia bersabda: "Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang paling amanah dihadapanku, baik pada dirinya maupun hartanya melebihi Abu Bakar bin Abu Qahafah. Seandainya saya boleh mengambil kekasih dari ummatku tentulah saya ambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Akan tetapi persaudaraan Islam lebih utama. Tutuplah semua pintu dariku kecuali pintu Abu Bakar." BUKHARI NO. 447
PINTU-PINTU DAN KUNCI UNTUK KA'BAH ATAU MASJID
dari Ibnu 'Umar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengunjungi Makkah (Ka'bah) seraya memanggil 'Utsman bin Thalhah, 'Utsman bin Thalhah kemudian membuka pintu (Ka'bah) dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun masuk diikuti oleh Bilal, Usamah bin Zaid, dan 'Utsman bin Thalhah, kemudian pintu ditutup. Beliau berada di dalam sesaat kemudian mereka keluar." Ibnu Umar berkata, "Aku segera menemui Bilal untuk menanyakan sesuatu, Bilal pun menjawab, "Beliau melaksanakan shalat di dalam (Ka'bah)." Aku bertanya lagi, "Di sebelah mana?" Bilal menjawab, "Di antara dua tiang." Ibnu Umar berkata, "Lalu saya lupa untuk bertanya berapa dia shalat." BUKHARI NO. 448
MASUKNYA ORANG MUSYRIK KE DALAM MASJID
dari Sa'id bin Abu Sa'id bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengirim pasukan berkuda mendatangi Najed, kemudian pasukan tersebut kembali dengan membawa tawanan seorang pria dari Bani Hanifah yang berjulukan Tsumamah bin Utsal. Kemudian pria itu diikat di salah satu tiang masjid." BUKHARI NO. 449
MENGERASKAN SUARA DI MASJID
dari As Sa'ib bin Yazid berkata, "Ketika saya berdiri di dalam masjid tiba-tiba ada seseorang melempar saya dengan kerikil, dan ternyata sehabis saya perhatikan orang itu yaitu ' Umar bin Al Khaththab. Dia berkata, "Pergi dan bawalah dua orang ini kepadaku." Maka saya tiba dengan membawa dua orang yang dimaksud, Umar kemudian bertanya, "Siapa kalian berdua?" Atau "Dari mana asalnya kalian berdua?" Keduanya menjawab, "Kami berasal dari Tha'if" 'Umar bin Al Khaththab pun berkata, "Sekiranya kalian dari penduduk sini maka saya akan aturan kalian berdua! Sebab kalian telah meninggikan bunyi di Masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." BUKHARI NO. 450
dari Ibnu Syihab telah menceritakan kepadaku 'Abdullah bin Ka'b bin Malik bahwa Ka'b bin Malik mengabarkan kepadanya, bahwa ia menagih hutang kepada Ibnu Abu Hadrad pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam masjid hingga bunyi keduanya meninggi dan didengar oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang berada di rumah. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian keluar menemui keduanya sambil menyingkap kain gorden kamar. Beliau memanggil Ka'b bin Malik: "Wahai Ka'b!" Ka'b bin Malik menjawab, "Wahai Rasulullah, saya penuhi panggilanmu." Beliau memberi arahan dengan tangannya biar ia membebaskan setengah dari hutangnya. Ka'b bin Malik berkata, "Wahai Rasulullah, saya sudah lakukan." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: "Sekarang bayarlah." BUKHARI NO. 451
MEMBUAT HALAQAH (MAJELIS) DAN DUDUK-DUDUK DI MASJID
dari 'Abdullah bin 'Umar berkata, "Seorang pria bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang pada ketika itu sedang di atas mimbar, "Bagaimana cara shalat malam?" Beliau menjawab: "Dua rakaat dua rakaat. Apabila dikhawatirkan masuk shubuh, maka shalatlah satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalatnya sebelumnya." Ibnu 'Umar berkata, "Jadikanlah witir sebagai shalat terakhir kalian, lantaran Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan hal yang demikian." BUKHARI NO. 452
dari Ibnu 'Umar berkata, "Seorang pria tiba kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika dia sedang berkhuthbah. Katanya, "Bagaimana cara shalat malam?" Beliau menjawab: "Dua rakaat dua rakaat. Apabila dikhawatirkan masuk subuh, maka shalatlah satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah kau laksanakan sebelumnya." Al Walid bin Katsir berkata, telah menceritakan kepadaku 'Ubaidullah bin 'Abdullah bahwa Ibnu 'Umar menceritakan kepada mereka, bahwa ada seseorang yang memanggil Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika dia berada di masjid." BUKHARI NO. 453
kepadanya dari Abu Waqid Al Laitsi berkata, "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada di masjid, maka datanglah tiga orang laki-laki. Dua orang menghadap Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan seorang lagi pergi. Satu di antara dua orang ini nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang yang satu lagi duduk di belakang mereka. Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai (menyampaikan pengajaran) dia bersabda: "Maukah kalian saya beritahu ihwal ketiga orang tadi? Adapun seorang di antara mereka, dia meminta pinjaman kepada Allah maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya." BUKHARI NO. 454
TERLENTANG DAN MELURUSKAN KAKI DI MASJID
dari 'Abbad bin Tamim dari Pamannya bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbaring di dalam masjid dengan meletakkan satu kakinya di atas kaki yang lain." Dan dari Ibnu Syihab dari Sa'id bin Al Musayyab berkata, "'Umar dan 'Utsman juga melaksanakan hal serupa." BUKHARI NO. 455
MASJID YANG TERLETAK DI JALAN HENDAKLAH TIDAK MENGGANGGU ORANG
dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Urwah bin Az Zubair bahwa 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, "Aku belum mengerti kedua orang tuaku kecuali ketika keduanya telah memeluk agama ini. Dan tidak berlalu suatu haripun dalam kehidupan kami kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiba menemui kami di penghujung hari, baik pada ketika paginya maupun sore. Aku ingat ketika nampak keIslaman Abu Bakar, ketika dia di masjid dan shalat di sana dengan membaca Al Qur'an. Maka wanita-wanita dan bawah umur Musyrik memperhatikan dia dengan penuh keheranan. Sementara Abu Bakar yaitu seseorang yang sangat gampang menangis, yang tidak sanggup menguasai air matanya apabila dia membaca Al Qur'an. Dan kejadian itu telah menggemparkankan para pembesar Musyrikin Quraisy." BUKHARI NO. 456
SHALAT DI MASJID PASAR
dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia bersabda: "Shalat berjama'ah lebih utama dari shalatnya sendirian di rumah atau di pasarnya sebanyak dua puluh lima derajat. Jika salah seorang dari kalian berwudlu kemudian membaguskan wudlunya kemudian mendatangi masjid dengan tidak ada tujuan lain kecuali shalat, maka tidak ada langkah yang dilakukannya kecuali Allah akan mengangkatnya dengan langkah itu setinggi satu derajat, dan mengahapus darinya satu kesalahan hingga dia memasuki masjid. Dan bila dia telah memasuki masjid, maka dia akan dihitung dalam keadaan shalat selagi dia meniatkannya, dan para malaikat akan mendoakannya selama dia masih berada di tempat yang ia gunakan untuk shalat, 'Ya Allah ampunkanlah dia. Ya Allah rahmatilah dia'. Selama dia belum berhadats." BUKHARI NO. 457
MENHILANGKAN JARI-JARI TANGAN DI MASJID DAN LAINNYA
dari Ibnu 'Umar atau Ibnu 'Amru, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menganyam jemarinya." Ashim bin 'Ali berkata, telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin Muhammad berkata, saya mendengar hadits ini dari bapakku, tapi saya tidak hafal. Lalu Waqid mengingatkan saya dari Bapaknya ia berkata; saya mendengar Bapakku ia berkata; 'Abdullah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai 'Abdullah bin 'Amru, mengapa bila kau bersama orang-orang lemah itu kau berbuat begini?" BUKHARI NO. 458
dari Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia bersabda: "Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain." kemudian dia menganyam jari jemarinya." BUKHARI NO. 459
dari Abu Hurairah berkata, "Rasulullah bersama kami melaksanakan salah satu dari shalat yang berada di waktu malam." Ibnu Sirin berkata, "Abu Hurairah menyebutkan menyebutkan (nama) shalat tersebut, tetapi saya lupa." Abu Hurairah mengatakan, "Beliau shalat bersama kami dua rakaat kemudian salam, kemudian dia mendatangi kayu yang tergeletak di masjid. Beliau kemudian berbaring pada kayu tersebut seolah sedang murka dengan meletakkan lengan kanannya di atas lengan kirinya serta menganyam jari jemarinya, sedangkan pipi kanannya diletakkan pada punggung telapak tangan kiri. Kemudian dia keluar dari pintu masjid dengan cepat. Orang-orang pun berkata, "Apakah shalat telah diqashar (diringkas)?" Padahal ditengah-tengah orang banyak tersebut ada Abu Bakar dan 'Umar, dan keduanya enggan membicarakannya. Sementara di tengah kerumunan tersebut ada seseorang yang tangannya panjang dan dipanggil dengan nama Dzul Yadain, dia berkata, "Wahai Rasulullah, apakah Tuan lupa atau shalat diqashar?" Beliau menjawab: "Aku tidak lupa dan shalat juga tidak diqashar." Beliau bertanya: "Apakah benar yang dikatakan Dzul Yadain?" Orang-orang menjawab, "Benar." Beliau kemudian maju ke depan dan mengerjakan shalat yang tertinggal kemudian salam. Setelah itu dia takbir dan sujud ibarat sujudnya yang dilakukannya atau lebih usang lagi. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan takbir, kemudian takbir dan sujud ibarat sujudnya atau lebih usang lagi, kemudian mengangkat kepalanya dan takbir." Bisa jadi orang-orang bertanya kepadanya (Ibnu Sirin), apakah dalam hadits ada lafadz 'Kemudian dia salam' kemudian ia berkata; saya menerima info bahwa Imran bin Hushain berkata; kemudian dia salam'." BUKHARI NO. 460
MASJID-MASJID YANG TERLETAK DI JALAN KOTA MADINAH DAN TEMPAT-TEMPAT DIMANA NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALAM PERNAH SHALAT DI DALAMNYA
telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah berkata, "Aku melihat Salim bin 'Abdullah menentukan tempat di suatu jalan kemudian melaksanakan shalat di tempat tersebut. Dan dia menceritakan bahwa Bapaknya pernah shalat di tempat itu, dan bapaknya pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga shalat di tempat itu." Telah menceritakan kepadaku Nafi' dari Ibnu 'Umar bahwa dia pernah shalat di tempat itu, dan saya bertanya kepada Salim, dan saya juga tidak mengetahuinya kecuali dia setuju dengan Nafi' ihwal tempat yang dimaksud. Namun keduanya berbeda pendapat ihwal masjid yang berada di Syarfil Rawha'." BUKHARI NO. 461
dari Nafi' bahwa 'Abdullah bin 'Umar mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berhenti di Dzul Hulaifah di bawah pohon samurah ketika melaksanakan 'Umrah dan hajinya, yaitu tempat yang kini digunakan sebagai masjid di tempat Dzul Hulaifah. Ketika dia kembali dari suatu peperangan, atau haji, atau umrah, dan melewati jalan tersebut dia turun melalu dasar lembah, dan ketika telah hingga di dasar lembah dia singgah di Bathha' (saluran tempat mengalirnya air) yang terletak di tebing sebelah timur dari lembah tersebut. Di situ dia bermalam dan beristirahat hingga pagi. Beliau tidak singgah di masjid yang berbatu dan tidak juga di bukit yang ada masjidnya. Di lembah itu terdapat celah yang pernah digunakan oleh 'Abdullah untuk melekasanakan shalat. Di dasar lembah tersebut ada gundukan pasir dimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat di situ. Suatu hari aliran air di Bathha' menyeret gundukan pasir tersebut sehingga menutup celah yang pernah digunakan oleh 'Abdullah untuk shalat. 'Abdullah bin 'Umar menceritakan kepadanya (Nafi') bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat di masjid kecil, bukan masjid yang terdapat di Syarful Rauha'. 'Abdullah mengetahui tempat yang pernah digunakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk shalat. Ia berkata, "Disana, di sebelah kanan bila kau berdiri shalat di masjid itu. Masjid itu terletak di sebelah kanan jalan bila kau berjalan menuju ke arah Makkah. Jarak masjid tersebut dengan masjid besar sejauh lemparan watu atau kurang lebihnya sekitar itu." A'abdullah bin 'Umar juga pernah shalat di lembah 'Irqi yang terletak diperbatasan Rauha'. Lembah ini ujungnya di sisi jalan di bawah masjid yang posisinya di sebelah kanan bila kau berjalan menuju Makkah. Disana sudah dibangun masjid namun 'Abdullah bin 'Umar belum pernah shalat di masjid tersebut. Dia melewati masjid tersebut dari sebelah kiri dan belakangnya, kemudian ia shalat di depannya di lembah 'Irq itu sendiri. Pernah ketika dia kembali dari Rauha', dia tidak shalat Zhuhur (di tempat lain) hingga hingga di tempat tersebut, kemudian dia shalat Zhuhur di tempat tersebut. Jika dia kembali dari Makkah dan melewati tempat itu satu jam sebelum Shubuh atau di selesai waktu sahar (menjelang shubuh), dia beristirahat hingga shalat Shubuh di tempat itu. 'Abdullah juga menceritakan kepadanya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berhenti singgah di bawah pohon besar di desa Ar-Ruwaitsah di sebelah kanan jalan menghadap ke jalan, yakni pada tempat yang rendah dan datar. Sehingga dia sanggup melalui tebing datar yang jaraknya dua mil dari ujung jalan yang datar desa Ar-Ruwaitsah. Tebing itu kepingan atasnya sudah banyak yang rontok dan berjatuhan di sisi bawahnya, namun tebing itu masih berdiri tegak pada landasannya sekalipun pada sisinya itu banyak terdapat celah. 'Abdullah bin 'Umar juga menceritakan kepadanya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat di akrab penderasan yang posisinya di belakang desa Al 'Arj bila kau menuju desa Hadlbah. Pada masjid itu ada dua atau tiga kuburan yang ditandai dengan watu yang berada di sebelah kanan jalan, pada jalan yang datar. Di sisi kanan jalan yang datar itulah 'Abdullah pernah melintas ketika kembali dari desa Al 'Irj sehabis matahari condong pada tengah hari, kemudian dia shalat Zhuhur di masjid itu. 'Abdullah bin 'Umar juga menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah singgah di pohon-pohon besar di sebelah kiri jalan di tempat saluran air akrab desa Harsya. Saluran air itu letaknya bekerjasama dengan ujung jalan desa Harsya yang jaraknya sejauh lemparan anak panah (kira-kira dua pertiga mil). 'Abdullah pernah shalat di akrab pohon yang paling besar dan paling tinggi di antara pohon-pohon besar tersebut. 'Abdullah juga menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah singgah pada saluran air yang terletak akrab lembah yang disebut dengan Marrul Zhahran, yakni sebelum Madinah bila menuruni lembah Shafrawat. Beliau singgah dan turun hingga ke bawah yang posisinya ada di sebelah kiri jalan bila kau menuju arah Makkah. Jarak antara saluran air yang dia singgahi dengan jalan hanya berjarak tidak lebih dari sejauh lemparan batu. 'Abdullah bin 'Umar juga menceritakan kepadanya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah singgah di Dzu Thuwa dan bermalam di sana hingga subuh, ia kemudian melaksanakan shalat subuh di sana ketika Beliau pergi mengunjungi Makkah. Tempat shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tersebut posisinya pada sebuah bukit besar, bukan pada posisi di mana kini dibangun masjid, yaitu pada dasar bukit tersebut. 'Abdullah bin 'Umar juga menceritakan kepadanya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menghadap dua saluran menuju gunung yang jaraknya dengan puncak gunung sekitar sebesar Ka'bah, posisinya kini di sebelah kiri dari masjid yang didirikan. Dan tempar shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam letaknya lebih rendah dari tebing yang berwarna hitam. Jarak tempat itu dari tebing tersebut sepuluh hasta atau kurang lebih sekitar itu. Dan bila kau shalat menghadap dua jalan ke gunung tersebut maka tempat tersebut berada di tengah antara kau berdiri dengan Ka'bah." BUKHARI NO. 462
BAB: SUTRAH (PEMBATAS) TEMPAT SHALAT
dari 'Abdullah bin 'Abbas bahwa dia berkata, "Pada suatu hari saya tiba sambil menunggang keledai betina dan pada ketika itu usiaku hampir baligh. Saat itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang shalat bersama orang banyak di Mina tanpa ada dinding (tabir) di hadapannya. Maka saya lewat didepan sebagian shaf, saya lantas turun dan saya biarkan keledaiku mencari makan. Kemudian saya masuk ke barisan shaf dan tidak ada seorang pun yang menegurku." BUKHARI NO. 463
dari Ibnu 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bila keluar untuk shalat 'ied, dia meminta sebuah tombak kemudian ditancapkannya di hadapannya. Kemudian dia shalat dengan menghadap ke arahnya, sedangkan orang-orang shalat di belakangnya. Beliau juga berbuat ibarat itu ketika dalam bepergian, yang kemudian diteruskan oleh para pemimpin (Khulafa Rasyidun)." BUKHARI NO. 464
dari 'Aun bin Abu Juhaifah berkata, saya mendengar Bapakku, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat bersama para sahabat di tempat Bathha`, dan di hadapan dia ditancapkan sebuah tombak kecil. Beliau mengerjakan shalat Zhuhur dua rakaat dan shalat Ashar dua rakaat, sementara perempuan dan keledai berlalu lalang di hadapannya." BUKHARI NO. 465
SUTRAH BAGI IMAM JUGA SEBAGAI BAGI ORANG YANG SHALAT DI BELAKANGNYA
dari Sahl bin Sa'd berkata, "Jarak antara tempat shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan dinding (pembatas) yaitu selebar untuk jalan kambing." BUKHARI NO. 466
dari Salamah berkata, "Jarak antara dinding masjid di mimbar kira-kira seukuran kambing sanggup lewat." BUKHARI NO. 467
SHALAT MENGHADAP TOMBAK KECIL
dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menancapkan sebuah tombak kemudian shalat menghadapnya." BUKHARI NO. 468
SHALAT MENGHADAP TONGKAT
telah menceritakan kepada kami 'Aun bin Abu Juhaifah berkata, "Aku mendengar Bapakku berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar menemui kami ketika terik matahari. Kemudian dia diberi baskom berisi air, kemudian dia berwudlu dan mengerjakan shalat Zhuhur dan 'Ashar bersama kami. Sementara itu dihadapannya ditancapkan sebuah tonggak, sementara para perempuan dan keledai berlalu lalang di belakang tonggak kayu tersebut." BUKHARI NO. 469
dari 'Atha' bin Abu Maimunah berkata, "Aku mendengar Anas bin Malik berkata, "Jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk buang hajat, maka saya dan seorang anak kecil mengikuti dia dengan membawa tongkat, atau sebatang kayu, atau bekas tombak dan baskom berisi air. Jika dia selesai dari buang hajat, maka kami memberikan baskom tersebut kepada beliau." BUKHARI NO. 470
SUTRAH KETIKA SHALAT DI MAKKAH DAN TEMPAT LAIN
dari Abu Juhaifah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar ketika terik matahari. Kemudian dia melaksanakan shalat Zhuhur dan 'Ashar dua rakaat dua rakaat di Bathha`. Sementara dihadapannya ditancapkan sebuah tongkat. Ketika dia berwudlu, maka orang-orang mengusapkan bekas air wudlunya (ke badan)." BUKHARI NO. 471
SHALAT DI HADAPAN TIANG
telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid berkata, "Aku dan Salamah bin Al Akwa' tiba (ke Masjid), kemudian dia shalat menghadap tiang yang akrab dengan tempat muhshaf. Lalu saya tanyakan, 'Wahai Abu Muslim, kenapa saya lihat kau menentukan tempat shalat akrab tiang ini? ' Dia menjawab, 'Sungguh saya melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menentukan untuk shalat di situ'." BUKHARI NO. 472
dari Anas bin Malik berkata, "Aku pernah melihat para sahabat senior berlomba mendekati tiang ketika adzan Maghrib." Syu'bah menambahkan dari 'Amru dari Anas, "Sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar." BUKHARI NO. 473
SHALAT DI ANTARA DUA TIANG DENGAN TIDAK BERJAMA'AH
dari Ibnu 'Umar berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam Ka'bah bersama Usamah bin Zaid, 'Utsman bin Thalhah dan Bilal dalam waktu yang cukup lama. Kemudian dia keluar dan akulah orang yang pertama kali masuk sehabis dia keluar. Aku lantas bertanya kepada Bilal, "Dimana dia tadi melaksanakan shalat? ' Bilal menjawab, "Di antara dua tiang depan." BUKHARI NO. 474
dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam Ka'bah bersama Usamah bin Zaid, Bilal dan 'Utsman bin Thalhah Al Hajabi kemudian pintu ditutup, dan dia berada di dalamnya. Kemudian sehabis dia keluar saya bertanya kepada Bilal apa yang dilakukan oleh dia di dalamnya. Bilal menjawab, 'Beliau menjadikan tiang berada di sebelah kiri, kemudian satu di sebelah kanan dan tiga tiang berada di belakangnya -saat itu tiang Ka'bah berjumlah enam buah- kemudian dia shalat'." Isma'il menyebutkan kepada kami; Malik menceritakan kepadaku, ia sebutkan, "Dua tiang di sebelah kanannya." BUKHARI NO. 475
dari Nafi' bahwa 'Abdullah bin 'Umar, bahwa bila ia masuk ke dalam Ka'bah, ia berjalan ke arah depan sementara pintu Ka'bah di belakangnya. Ia terus berjalah hingga antara dia dan dinding dihadapannya kira-kira tiga hasta, kemudian dia shalat di tempat dimana Bilal mengabarkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat di posisi itu." 'Abdullah bin 'Umar berkata, "Dan tidak mengapa bila di antara kami shalat di dalam Ka'bah menghadap kemana saja yang dia mau." BUKHARI NO. 476
SHALAT DI HADAPAN HEWAN TUNGGANGAN, UNTA, POHON ATAUPUN PELANA
dari Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa dia pernah menambatkan tunggangannya kemudian shalat menghadap ke arahnya." Aku (Nafi') berkata, 'Apakah kau pernah melihat bahwa tunggangannya itu berjalan pergi? ' Ibnu 'Umar menjawab, 'Beliau ambil tali pelananya kemudian meletakkannya di depannya, kemudian shalat menghadap ke arahnyanya.' Dan Ibnu 'Umar juga pernah melakukannya." BUKHARI NO. 477
SHALAT DI HADAPAN TEMPAT TIDUR
dari 'Aisyah berkata, "Apakah kalian menyamakan kami dengan anjing dan keledai? Sungguh, saya pernah berbaring di atas tikar, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba dan berdiri melaksanakan shalat di tengah tikar. Aku tidak ingin mengganggu beliau, maka saya geser kakiku pelan-pekan dari tikar hingga saya keluar dari selimutku." BUKHARI NO. 478
ORANG YANG SEDANG SHALAT MENCEGAH ORANG YANG LEWAT DI DEPANNYA
Hilal dari Abu Shalih bahwa Abu Sa'id berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah berkata, telah menceritakan kepada kami Humaid bin Hilal Al 'Adawi berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Shalih as Samman berkata, "Pada hari jum'at saya melihat Abu Sa'id Al Khudri shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari orang-orang (yang lewat). Kemudian ada seorang cowok dari Bani Abu Mu'aith hendak lewat di depannya. Maka Abu Sa'id menghalangi orang itu dengan menahan dadanya. Pemuda itu mencari jalan tapi tidak ada kecuali di depan Abu Sa'id. Maka cowok itu mengulangi lagi untuk lewat. Abu Sa'id kembali menghadangnya dengan lebih keras dari yang pertama. Kemudian cowok itu pergi meninggalkan Abu Sa'id dan menemui Marwan, ia kemudian mengadukan insiden yang terjadai antara dirinya dengan Abu Sa'id. Setelah itu Abu Sa'id ikut menemui Marwan, Marwan pun berkata, "Apa yang kau lakukan terhadap anak saudaramu ini, wahai Abu Sa'id?" Abu Sa'id menjawab, "Aku pernah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari orang, kemudian ada seseorang yang hendak lewat dihadapannya maka hendaklah dicegah. Jika dia tidak mau maka perangilah dia, lantaran dia yaitu setan." BUKHARI NO. 479
DOSA ORANG YANG LEWAT DI DEPAN ORANG YANG SEDANG SHALAT
dari Busr bin Sa'id bahwa Zaid bin Khalid mengutusnya kepada Abu Juhaim untuk menanyakan apa yang didengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ihwal orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat. Abu Juhaim kemudian berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sekiranya orang yang lewat di depan orang yang mengerjakan shalat mengetahui apa akhir yang akan ia tanggung, pasti ia berdiri selama empat puluh lebih baik baginya dari pada dia lewat di depan orang yang sedang shalat." Abu An Nadlr berkata, "Aku tidak tahu yang dimaksud dengan jumlah 'empat puluh itu', apakah empat puluh hari, atau bulan, atau tahun." BUKHARI NO. 480
ORANG YANG SHALAT MENGHADAP ORANG YANG JUGA SEDANG SHALAT
dari 'Aisyah, bahwa telah disebutkan di sisinya ihwal sesuatu yang sanggup menetapkan shalat, orang-orang mengatakan, 'Yang sanggup memutus shalat diantaranya yaitu anjing, keledai dan wanita.' Maka 'Aisyah pun berkata, "Sungguh kalian telah menganggap kami (kaum wanita) sebagaimana anjing. Sungguh saya pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat, sementara saya berbaring di atas tikar antara dia dan dengan arah biblatnya. Saat saya ada keperluan dan saya tidak ingin menghadapnya, maka saya pergi dengan pelan-pelan." Dan dari Al A'masy dari Ibrahim dari Al Aswad dari 'Aisyah ibarat ini." BUKHARI NO. 481
SHALAT DI BELAKANG ORANG YANG SEDANG TIDUR
dari 'Aisyah ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat sedangkan saya tidur di atas ranjangnya dengan membentang dihapannya. Ketika akan witir, dia membangunkan saya hingga saya pun shalat witir." BUKHARI NO. 482
SHALAT SUNNAH DI BELAKANG SEORANG WANITA
dari 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata, "Aku pernah tidur di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan kakiku berada di arah kiblatnya. Jika akan sujud dia menyentuhku dengan tangannya, maka saya pun menarik kakiku. Dan bila dia berdiri saya luruskan kembali kakiku." 'Aisyah berkata, "Pada zaman iku rumah-rumah tidak mempunyai lampu." BUKHARI NO. 483
PENDAPAT YANG MENYATAKAN BAHWA SHALAT TIDAK DAPAT DIPUTUS OLEH SUATU APAPUN
dari 'Aisyah. (dalam jalur lain disebutkan) Al A'masy berkata, telah menceritakan kepadaku Muslim dari Masruq dari 'Aisyah, bahwa telah disebutkan kepadanya ihwal sesuatu yang sanggup menetapkan shalat; anjing, keledai dan wanita. Maka ia pun berkata, "Kalian telah menyamakan kami dengan keledai dan anjing! Demi Allah, saya pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat sedangkan saya berbaring di atas tikar antara dia dan arah kiblatnya. Sehingga ketika saya ada suatu keperluan dan saya tidak ingin duduk hingga menimbulkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terganggu, maka saya pun pergi belakang layar dari akrab kedua kaki beliau." BUKHARI NO. 484
telah menceritakan kepadaku Anak saudara Ibnu Syihab, bahwa dia pernah bertanya kepada Pamannya ihwal sesuatu yang sanggup menetapkan shalat. Maka pamannya menjawab, "Tidak ada yang sanggup menetapkan shalat. Aku telah menerima kabar dari 'Urwah bin Az Zubair bahwa 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, "Sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdiri melaksanakan shalat malam sedangkan saya berbaring membentang antara dia dan arah kiblatnya di tempat tidur keluarga." BUKHARI NO. 485
MEMANGGUL ANAK KECIL DI PUNDAK KETIKA SEDANG SHALAT
dari Abu Qatadah Al Anshari, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat dengan menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Dan berdasarkan riwayat Abu Al 'Ash bin Rabi'ah bin 'Abdu Syamsi, ia menyebutkan, "Jika sujud dia letakkan anak itu dan bila berdiri dia gendong lagi." BUKHARI NO. 486
SHALAT MENGHADAP TEMPAT TIDUR YANG DITEMPATI WANITA YANG SEDANG HAIDL
dari 'Abdullah bin Syaddad bin Al Had berkata, bibiku Maimunah binti Al Harits mengabarkan kepadaku, ia berkata, "Tempat tidurku berhadapan dengan tempat shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan terkadang pakaian dia mengenaiku ketika saya sedang tidur." BUKHARI NO. 487
telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Syaddad berkata, "Aku mendengar Maimunah berkata, "Pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat sedangkan saya tidur disampingnya. Jika sujud baju dia mengenaiku, padahal ketika itu saya sedang haid." Musaddad menambahkan dari Khalid ia berkata, Sulaiman Asy Syaibani menceritakan kepadaku dengan lafadz, "Dan saya sedang haid." BUKHARI NO. 488
APAKAH BOLEH SESEORANG YANG SEDANG SHALAT MENEPUK ISTRINYA YANG TIDUR MELINTANG DI HADAPANNYA AGAR DAPAT SUJUD DENGAN SEMPURNA
dari 'Aisyah berkata, "Sangat jelek apa yang kalian lakukan dengan menyamakan kami dengan anjing dan keledai! Sungguh, saya pernah lihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat sedangkan saya berbaring antara dia dan arah kiblatnya. Jika akan sujud dia mendorong kakiku dengan tangannya, maka saya pun segera menarik kedua kakiku." BUKHARI NO. 489
WANITA MENGHILANGKAN KOTORAN DARI ORANG YANG SEDANG SHALAT
dari 'Abdullah berkata, "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat di akrab Ka'bah, ada orang-orang Quraisy yang sedang duduk-duduk di majelis mereka. Ketika itu ada seorang pria dari mereka yang berkata, 'Tidakkah kalian melihat kepada orang yang riya' ini? Siapa dari kalian yang sanggup mengambilkan buatku sisa unta yang gres disembelih milik fulan, kemudian dia kumpulkan kotorannya, darah dan plasenta (ari-ari) nya! ' Maka ada seorang pria tiba dengan membawa kotoran tersebut, ia menunggu hingga dia sujud. Sehingga ketika dia sujud, ia ia sanggup meletakkan kotoran tersebut di antara pundak beliau. Maka ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud, orang itu meletakkan kotoran-kotoran unta itu di antara dua pundak beliau. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tetap dalam keadaan sujud, mereka pun tertawa hingga sebagian condong kepada sebagian yang lain. Lalu ada seseorang menemui Fatimah? radliallahu 'anha, dan orang itu yaitu Juwairiyah. Maka Fatimah bergegas mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang ketika itu masih dalam keadaan sujud. Kemudian Fatimah membersihkan kotoran-kotoran unta tersebut dari beliau. Kemudian Fatimah menghadap ke arah mereka dan mengumpat orang-orang Quraisy tersebut. Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menuntaskan shalat dan berdo'a: "Ya Allah kuserahkan (urusan) Quraisy kepada-Mu, Ya Allah kuserahkan Quraisy kepada-Mu, Ya Allah kuserahkan Quraisy kepada-Mu." Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebut satu persatu nama-nama mereka: "Ya Allah kuserahkan (urusan) 'Amru bin Hisyam kepada-Mu, 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Al Walid bin 'Utbah, Umayyah bin Khalaf, 'Uqbah bin Abu Mu'aith dan 'Umarah bin Al Walid." 'Abdullah bin Mas'ud berkata, "Demi Allah, saya melihat orang-orang yang disebut Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tersebut terbantai pada perang Badar, kemudian mereka dibunag ke lembah Badar." Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jadilah para penghuni lembah ini diiringi dengan kutukan." BUKHARI NO. 490